24 September 2017

Siapa Dwitasari?


Menjadi seorang penulis novel dan skenario film adalah mimpi gadis ini sejak duduk di bangku SMP. Bersama Plotpoint, dia menggali ilmu penulisan novel dengan mengikuti Kelas Penulisan Novel Dasar dimentori penulis Clara Ng pada tahun 2011. Berselang dua tahun, Dwitasari menempuh pendidikan bersama penulis skenario film Salman Aristo dalam Kelas Penulisan Skenario Film Dasar.

Selama 5 tahun karir penulisannya, Dwitasari telah menulis sebanyak 14 buku. Sejumlah 4 novelnya juga sudah diadaptasi ke dalam bentuk film yaitu Cinta Tapi Beda (Multivision), Raksasa Dari Jogja (Starvision), Promise (Screenplay), dan Spy In Love. Segera menyusul buku Jatuh Cinta Diam-diam yang difilmkan oleh Visinema. Untuk memahami setiap karya Dwitasari, silakan klik DI SINI

Dwitasari kini menetap di Cibinong, Kabupaten Bogor, dan menempuh pendidikan sarjananya di Depok, Universitas Indonesia. Perempuan berzodiak Sagittarius ini sedang menyelesaikan skripsinya di jurusan Sastra Indonesia. Selain menulis novel dan menyelesaikan skripsi, Dwitasari juga mengisi kesibukan harinya dengan menyaksikan laga pertandingan sepak bola Persija Jakarta.

Karena lebih ingin dikenal lewat karyanya, Dwitasari tidak mem-posting foto dirinya di setiap sosial media. Baginya, foto dalam sosial media tidak akan menggantikan hangatnya perjumpaan nyata. Maka, Dwitasari memilih untuk menemui pembacanya lewat workshop penulisan novel atau meet and greet. Kesibukan Dwitasari lainnya adalah memberi pelatihan menulis novel untuk siswa, mahasiswa, instansi pemerintahan, dan khalayak umum. 

Rasakan sisi lain dan kehangatan Dwitasari lewat percakapan yang menenangkan. 

Pengundangan workshop penulisan novel atau meet and greet:
0822-6102-2388 (Tyas)

Official Line Dwitasari:
Untuk ADD, silakan klik DI SINI

29 May 2017

Delapan Hari Setelah Segalanya Berakhir

Baca Sebelumnya Enam Hari Setelah Segalanya Berakhir


Tidak akan pernah ada orang yang siap menghadapi perpisahan, termasuk aku yang tidak pernah siap untuk kehilangan. Kamu masuk ke dalam hidupku, memberi banyak arti, melukis banyak warna, menyisakan banyak peluk, menyimpan banyak genggaman tangan. Betapa mudah kamu masuk ke dalam hidupku, semudah itu juga kamu meninggalkanku.

Kamu tentu tidak paham, kekuatan cinta selalu berhasil membahagiakan siapapun, juga selalu berhasil menyakiti kapanpun. Aku terbuai pada cinta yang kaubisikan di telingaku, pada rindu yang kaudengungkan dalam setiap percakapan kita, sayangnya itu tak bertahan lama-- sekejap saja kamu ubah semua, dari nyata jadi semu semata. 

Kamu mengaburkan pandanganku tentang cinta. Kamu mengubah duniaku yang telah berwarna kembali abu-abu lagi. Kamu membirukan segalanya, mengubah setiap candu jadi luka baru. Hatiku lebam-lebam, sementara kamu tidak peduli pada kondisiku yang kesakitan.

Tidak bisakah waktu diputar ulang kembali, saat aku dan kamu masih saling mencintai? Tidak bolehkah aku mengharapmu sekali lagi, memelukmu seerat dulu lagi? Aku masih tidak percaya, secepat ini kamu mengakhiri semua, seakan aku bukanlah sosok penting yang patut diperjuangkan. Aku bahkan seakan tidak berhak untuk dibahagiakan. Kepergianmu tentu saja menghancurkan, meremukan, dan meniadakan kenyataan.

Aku terlambat menyadari, mungkin saja ini drama belaka. Mungkin saja, sesungguhnya kamu tidak benar-benar cinta. Mungkin saja, kata cintamu palsu semata. Aku terlampau melibatkan perasaan, memberi segalanya yang bisa kuberikan, berkorban apapun yang bisa aku lakukan, sayangnya segalanya tidak pernah cukup. Segalanya tidak akan pernah cukup. Setiap tuntutanmu yang justru aku jalani dengan baik, segala keinginanmu yang justru telah aku wujudkan, justru membuatmu pergi tanpa alasan dan penjelasan.

Kamu meninggalkanku dengan alasan sungguh klasik. Takut aku tidak bahagia denganmu. Takut kamu selalu membuatku menunggu. Takut kamu tidak mampu mencapai ekspetasiku. Takut kamu tidak bisa mencintaiku secara utuh. Ketakutan-ketakutan yang nampaknya hanya kamu ucapkan agar aku segera percaya dan memutuskan untuk menjauh darimu.

Delapan hari setelah kamu pergi, segalanya masih sama dan begitu hampa. Menyadari bahwa kamu tak ikut terluka, membuat aku terus bertanya-tanya. Jika dari awal segalanya tak didasari cinta, mengapa kaubegitu berani untuk berkata cinta? Jika dari awal memang dalam hatimu tidak pernah ada perasaan sayang, mengapa kamu memanggilku dengan panggilan sayang? Jika selama ini aku hanyalah pemain pendukung dalam drama kehidupanmu, mengapa seakan kaulibatkan aku begitu jauh dalam dramamu?

Kamu tahu, Sayang? Tidak ada yang lebih menyakitkan, daripada berjalan terlalu jauh, lalu kautinggalkanku di tengah jalan, sebelum kita berdua sampai di tujuan. Kautinggalkanku begitu saja. Begitu saja. Seakan kita tidak pernah memulai segalanya. Seakan aku bukan siapa-siapa. Seakan aku hanya mainanmu saja.

Jika kauanggap hubungan kita hanyalah permainan yang segera berakhir, mengapa justru aku yang jadi korban dalam setiap permainanmu? Bukan kamu.

Jika kauanggap hubungan kita hanyalah permainan, salahkah aku yang terlalu serius, terlalu melibatkan perasaan, dalam permainan ini?

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :')

27 May 2017

Enam Hari Setelah Segalanya Berakhir

Baca sebelumnya di Empat Hari Setelah Segalanya Berakhir


Masih terasa kekosongan yang disebabkan ketidakhadiranmu di sini. Masih ada rindu yang semakin menggunung karena sudah beberapa minggu kita tidak bertemu. Rasanya begitu berat menjalani hari-hari, ketika aku tidak lagi tahu kabarmu saat ini. Rasanya sulit ketika aku melewati setiap jejak kenangan kita, yang tersisa di kotaku, sementara aku menyadari; kita tidak lagi bersama.

Apa kabarmu di sana? Bahagiakah kamu ketika kamu memutuskan untuk mengakhiri segalanya padahal hubungan kita sedang baik-baik saja? Puaskah kamu meninggalkan seseorang yang paling mencintaimu, tanpa memberi dia kesempatan untuk bertanya dan bicara? Senangkah kamu menjalani hari-hari tanpa kehadiranku di sampingmu? Kalau memang jawabannya iya, betapa bahagianya hidupmu sekarang. Sedangkan di sini, yang aku rasakan adalah kebalikan dari yang kamu rasakan. Sepertinya memang, hanya aku yang paling sedih menghadapi perpisahan kita.

Kamu tidak tahu, setiap malam selalu ada air mata yang terjatuh untukmu. Kamu tidak akan menyadari, setiap hari hatiku masih terus memanggil namamu. Kamu tidak mengerti, setiap saat aku merapal doa untukmu. Sedangkan mungkin di sana, apapun yang kamu lakukan saat ini, tidak pernah melibatkan aku lagi.

Sayang, semakin berat aku menerima kenyataan, bahwa kamu tidak membutuhkan aku lagi. Kamu lepaskan tanganku, di saat aku masih membutuhkanmu. Kamu tinggalkan aku di tengah perjalanan, tanpa memberi tahu apa yang selanjutnya harus aku lakukan. Kamu begitu mudah mengakhiri segala, tanpa menyadari bahwa caramu mengakhiri membuatku terluka tanpa jeda.

Terima kasih sudah menghancurkan apa yang telah aku bangun selama ini. Terima kasih sudah menghancurkan mimpi-mimpiku untuk mengenalmu pada orangtuaku, pada temanku, pada orang-orang yang menanyakan hubungan kita. Terima kasih sudah mengaburkan segala pandangan yang kupikir selama ini cinta, yang ternyata hanya drama belaka. Terima kasih sudah menghempaskanku tanpa memikirkan pengorbananku. Terima kasih untuk setiap luka yang kamu goreskan tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. 

Enam hari setelah segalanya berakhir, rasanya masih separah ketika pertama kali kamu mengucapkan kata pisah. Rasanya semua masih begitu sama. Rasanya mataku masih sembab karena bertanya-tanya dengan air mata. Rasanya ini semua masih tidak adil jika aku harus menerima segalanya dengan logikaku, terutama dengan perasaanku. 

Caramu meninggalkanku membuatku semakin tak tentu arah, merasa sibuk berdarah-darah-- demi orang yang salah.

Baca Lanjutannya di Delapan Hari Setelah Segalanya Berakhir

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :")

25 May 2017

Empat Hari Setelah Segalanya Berakhir



Kemarin, adalah hari ketiga setelah segalanya berakhir. Semalam, entah mengapa, aku benci dengan kekosongan dan kehampaan yang aku rasakan. Mataku sembab entah oleh apa. Pipiku menghangat, ada butiran air yang tiba-tiba jatuh menderas dari mata, yang pada akhirnya aku sadari; aku menangisimu.

Tidak ada lagi yang tersisa darimu. Selain kenangan kita, foto-foto kita, sisa-sisa pelukmu yang masih tertinggal di sini, juga chat yang tidak pernah aku hapus. Saat merindukanmu, aku hanya mampu membaca pesan singkatmu, menyadari betapa dulu kita pernah semanis ini, sebelum pada akhirnya kamu memutuskan pergi.

Sungguh, aku sangat ingin memelukmu saat-saat ini. Bercerita seperti dulu lagi, mendengar suaramu seperti kemarin-kemarin, menggenggam jemarimu seerat beberapa minggu yang lalu. Tidak bisakah hal-hal itu terulang lagi? Tidak bisakah aku memelukmu sedekat kemarin? Segalanya memang tidak bisa dan tidak mungkin. Karena status kita tidak lagi seperti kemarin. Kita kini kembali jadi dua orang asing yang saling memunggungi, kamu sudah ingin tahu apa-apa lagi.

Kamu tidak tahu, betapa berat menjalani hari setelah kamu memutuskan pergi. Betapa berat untuk tidak mengingat saat-saat terbaik yang pernah aku lewati bersamamu. Betapa sulit menerima kenyataan bahwa kita sudah tidak lagi terikat status apapun. Betapa rumit menghadapi fakta bahwa kita tidak sejalan. Betapa sedih mengetahui bahwa kamu tidak membutuhkan aku di sisimu lagi. Kamu tidak akan pernah tahu semua, karena selalu saja begitu, selalu rasa peduliku yang besar padamu, sementara rasa pedulimu tidak pernah sebesar itu.

Aku baru mengerti, betapa sepi hari-hari  yang aku jalani-- jika itu tanpamu. Karena aku terbiasa membaca chat-mu, mendengar suaramu, dan kita berbincang sampai larut. Ketika segala rutinitas itu menghilang, aku baru benar-benar menyadari, kamu sudah merenggut separuh diri, separuh yang kaucuri, hingga saat kamu pergi; aku merasa bukan diriku lagi. 

Sayangnya, kamu tidak akan pernah mengerti, siapa yang paling terluka dan paling menjadi korban di sini. Sayangnya, dari sikapmu sejauh ini, dari sikapmu yang tidak ingin tahu lagi, dari tindakanmu yang tidak menghubungiku lagi, cukup membuatku sadar diri; aku tidak sepenting itu lagi.

Orang bilang, putus cinta itu rasanya seperti sulit bernapas, sulit memejamkan mata, sulit melakukan segala, awalnya aku tidak percaya. Hingga empat hari yang lalu, kamu berkata, "Mending kita putus saja."

Kamu tahu? Saat itu, aku jadi sulit bernapas.

Baca lanjutannya di Enam Hari Setelah Segalanya Berakhir

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :")

23 May 2017

Dua Hari Setelah Segalanya Berakhir

Baca sebelumnya di Setelah Kita Putus

Ketika kamu meminta untuk pisah, sebenarnya saat itu juga; aku merasa hilang arah. Bayangkan saja, kita sudah berjalan sejauh ini, tetapi kamu mengakhiri segalanya semudah ini. Kamu membutakan matamu pada setiap usahaku, pada setiap perjuanganku, pada setiap pemakluman yang aku berikan padamu, pada setiap maaf yang aku berikan padamu. Semuanya hanyalah angin lalu yang mungkin tidak penting bagimu.

Kamu tahu rasanya terpaksa mengakhiri di puncak sangat mencintai? Kamu tahu rasanya menyudahi ketika aku sedang berada di titik sangat mengagumi? Aku sedang merasakan keduanya, namun sayangnya; kamu tidak merasakan hal yang sama. Makanya, mudah saja bagimu untuk menghempaskan segalanya, seakan aku ini hanyalah asap, udara yang berembus mengalir di dekat rambut ikalmu, seketika hilang termakan detik waktu. 

Karena bagimu, aku bukan siapa-siapamu, maka kamu tidak butuh air mata saat mengakhiri semua. Karena buatmu, aku hanyalah orang yang mampir sesaat, hingga kepergianku tentu tidak menimbulkan luka apapun di benakmu. Sungguh, yang kamu rasakan selama ini, tentu berbeda dengan yang aku rasakan selama ini. Kamu adalah prioritasku, sementara aku hanyalah si-nomor-duamu.

Bahkan, di hari kedua ketika kamu memutuskan segalanya berakhir, aku masih berusaha berpikir lebih jernih lagi. Berusaha memperbaiki akal sehatku yang sempat rusak karena terlalu mencintaimu. Dengan segenap hati, mencoba mempercayai bahwa kamu memang benar-benar pergi. Bahwa memang kamu tidak lagi di sini. Bahwa pada akhirnya, kita jadi dua orang asing lagi. Bahwa kita sungguh putus dan aku harus menerima kenyataan ini.

Aku tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Aku bahkan sepertinya tidak berhak untuk setiap kesempatan, walaupun kata maaf yang aku tuturkan padamu sudah sederas hujan. Bahkan, mungkin, aku sudah tidak berhak lagi merasakan sebuah pelukan penuh kehangatan. Karena kita sudah jadi sepasang mantan yang terputus di tengah jalan.

Dan, masih aku rasakan aroma tubuhmu di sini. Masih tersisa rasa genggaman tanganmu di McD Cibinong malam itu. Masih bisa kurasakan bayanganmu di sini, seakan kamu berada di depanku, sedang memandangiku dengan senyum khasmu. Masih bisa aku rasakan pelukmu di setiap inci tubuhku. Masih aku rasakan debaran jantungmu ketika aku menyandarkan kepalaku dekat dengan dadamu.

Kamarku masih begitu sama. Laptop yang aku gunakan untuk mengetik pun masih begitu sama. Udara yang berembus masih sama. Aktivitasku masih begitu sama. Sayangnya, ada yang berbeda di sini, kamu tidak lagi di sini, kamu bukan milikku lagi.

Sungguh, Sayang, tidak mudah menerima kenyataan, bahwa kamu pergi secepat ini.

Baca lanjutannya di Empat Hari Setelah Segalanya Berakhir

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :')

22 May 2017

Setelah Kita Putus



Pagi ini, aku terus menatap ponselku. Sambil bertanya-tanya dalam hati, mengapa tidak ada chat-mu pagi ini? Mengapa tidak ada suaramu yang menyapaku pagi ini? Mengapa tidak ada laporan paling awal mengenai kegiatanmu hari ini? Aku menunggu lama sekali, mencerna segala pertanyaan hingga pukul dua belas siang, hingga aku baru saja mengingat memori terakhir malam kemarin. Kamu memang tidak akan pernah menghubungiku lagi, karena semalam-- kita sudah putus.

Jam makan siang sebentar lagi, aku memeriksa kulkas dan melirik bahan makanan yang sudah aku beli beberapa hari yang lalu. Menatap potongan egg roll yang sebentar lagi akan aku goreng. Memandangi jamur kancing dan brokoli yang sudah kubeli di supermarket kemarin. Terpaku melihat potongan ayam yang sudah menghitam, karena semalam aku sudah merendam potongan ayam tersebut bersama bumbu teriyaki yang sudah aku buat. Aku memandangi semua bahan makanan yang seharusnya aku masak hari ini, siang ini, untuk aku antarkan ke tempat kerjamu. Tapi, kita sudah putus, dan tidak mungkin aku antarkan makan siang dengan mata sembab seperti ini. Memalukan.

Sebuah chat masuk di ponselku, pesan dari seorang pria bermata sipit, yang sama sepertiku; memiliki lesung pipit. Dia mengajakku untuk bertemu dan aku sudah yakin betul, sepertinya pertemuan kami akan diisi segala macam curahan hatiku yang hubungannya telah berakhir denganmu. Kuperiksa kulkas lagi, mengambil seluruh bahan makanan yang harusnya aku masak untukmu. Bahan makanan yang pada akhirnya tidak kumasak untukmu, tetapi untuk orang lain.

Saat memotong brokoli, saat mencuci brokoli dan memberi garam untuk mengusir pestisida di brokoli, saat memotong jamur kancing, saat menumis ayam teriyaki, saat menggoreng egg roll, saat itu juga aku masih terus berpikir; benarkah hubungan kita benar-benar berakhir? Aku masih berpikir, terus berpikir, hingga masakanku selesai dan siap untuk dimasukan ke dalam kotak makan.

Aku menatap ponselku lagi, sudah jam dua siang. Biasanya, sungguh biasanya, kamu mengabariku apa saja. Mengenai makanan yang tersedia di ruang makan dosen, atau bercerita tentang sarapanmu pagi ini, atau bercerita tentang kegiatanmu hari ini, atau betapa kamu sangat mencintaiku, atau betapa kamu sangat merindukanku, atau betapa kamu sangat menunggu hari sabtu. Sabtu, hari paling spesial karena di hari itulah kita paling sering bertemu.

Tapi, hingga pukul tiga siang. Memang tidak ada chat darimu. Dan, sekali lagi, aku baru menyadari, tidak perlu aku mengharap terlalu tinggi, kita memang sudah tidak bersama lagi. Tidak bersama lagi.

Aku memutuskan untuk bertemu pria bermata sipit, yang kadang menemuiku di hari libur kerjanya. Dia memakan masakan yang aku bawa untuknya dengan lahap. Berdecak kagum pada ayam teriyaki yang aku masak. Aku memandangi dia ketika begitu asik memakan masakanku, kemudian diam-diam berharap, seandainya di depanku, saat itu, aku sedang memandangimu. Seandainya, saat itu, kamulah yang memakan masakanku, bukan orang lain.

Sayangnya, kamu tidak di sini. Sayangnya, aku tidak bisa memandangimu lagi. Sayangnya, bukan kamu yang memuji masakankan kali ini. 

Dan, malam ini, aku masih memandangi ponselku. Masih terus bertanya-tanya dalam hati, benarkah hubungan kita telah berakhir? Rasanya baru kemarin aku mencium aroma tubuhmu yang hangat. Rasanya baru kemarin kita tertawa di depan kamera. Rasanya baru kemarin kita berpeluk tanpa beban apapun.

Lalu, mengapa kaurenggut kebahagiaanku secepat ini?

Baca lanjutannya di Dua Hari Setelah Segalanya Berakhir

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :")

25 February 2017

Buku #SetelahKamuPergi Terbit!


Sinopsis:
Aku melepas pelukmu dengan harapan ini bukan yang terakhir. Namun, kamu tetap pergi. Air mataku yang jatuh satu per satu, tak pernah kamu gubris lagi. Begitu saja kamu putuskan untuk lari, tanpa peduli dengan segalanya yang sudah kita bangun sejauh ini. Sehebat apa dia hingga mengubahmu jadi lelaki yang tak lagi kukenali?

Kamu ciptakan perpisahan, tanpa menatap aku yang kesakitan. Kamu kuburkan semua kenangan, seakan aku tidak pernah kamu jadikan tujuan. Kamu bunuh semua harapan hingga membuat aku muak dan kelelahan.

Kapan hari itu akan datang? Saat pada akhirnya kamu akan berhenti mencari, kemudian menyadari bahwa akulah harusnya tempatmu kembali.
TOKO BUKU YANG MENYEDIAKAN BUKU #SetelahKamuPergi 






Pemesanan via online:
SMS/WA: 0822-6102-2388

28 January 2017

Meet and Greet #SetelahKamuPergi bersama Dwitasari di JOGJA dan SOLO :)





Launching buku #SetelahKamuPergi dan Meet and Greet bersama Dwitasari :)

 Bakalan ngapain aja?
1. Kepoin proses kreatif buku #SetelahKamuPergi
2. Tanya - jawab tentang dunia penulisan novel
3. Belajar nulis novel bareng
4. Foto bareng Dwitasari
5. Curhat bareng Dwitasari
6. Booksigning
7. Kuis seru berhadiah buku-buku Dwitasari

 Tiket Masuk:
Membeli buku #SetelahKamuPergi saat acara
(BONUS LANGSUNG: Gelang bulu unyu + undian makan malam bareng Dwitasari di Jogjakarta)

****

Meet and Greet #SetelahKamuPergi bersama Dwitasari di JOGJAKARTA:
- Tempat: 
Kantor Penerbit Bentang Pustaka, Taman Bentang Pustaka, Jalan Plemburan no. 1, Pogung Lor, Mlati Sleman, Jogjakarta.
- Waktu
Jumat, 10 Februari 2017, jam 15.00 - 17.00

Meet and Greet #SetelahKamuPergi bersama Dwitasari di SOLO:
- Tempat: 
Togamas Slamet Riyadi, Solo

- Waktu: 
Sabtu, 11 Februari 2017, jam 14.00 - 16.00


CARA PENDAFTARAN MEET AND GREET:
- SMS/WA: 0853-1080-2658
- LINE: @vaf5655t (pakai @)
dengan format: 
SKP_JOGJA_Nama Kamu (Untuk yang datang ke MnG JOGJA)
atau
 SKP_SOLO_Nama Kamu (Untuk yang datang ke MnG SOLO)

Hanya tersedia 200 kuota untuk masing-masing kota, ya. :) Siapa paling cepat daftar, dia yang bakalan masuk kuota. Yuk, daftar sekarang!

* Teaser Buku #SetelahKamuPergi klik di sini *

22 January 2017

Pre Order: Setelah Kamu Pergi


Bonus Pre Order:
1. Tanda Tangan Dwitasari
2. Gelang Bulu Lucu

Sinopsis:
Aku melepas pelukmu dengan harapan ini bukan yang terakhir. Namun, kamu tetap pergi. Air mataku yang jatuh satu per satu, tak pernah kamu gubris lagi. Begitu saja kamu putuskan untuk lari, tanpa peduli dengan segalanya yang sudah kita bangun sejauh ini. Sehebat apa dia hingga mengubahmu jadi lelaki yang tak lagi kukenali?

Kamu ciptakan perpisahan, tanpa menatap aku yang kesakitan. Kamu kuburkan semua kenangan, seakan aku tidak pernah kamu jadikan tujuan. Kamu bunuh semua harapan hingga membuat aku muak dan kelelahan.

Kapan hari itu akan datang? Saat pada akhirnya kamu akan berhenti mencari, kemudian menyadari bahwa akulah harusnya tempatmu kembali.

Cara Pre Order:

1. Pre Order di BukuKita
Website: http://bit.ly/setelahkamupergi
SMS/WA: 081285000570 

2. Pre Order di Teman Buku
Website: http://bit.ly/SetelahKamuPergiDwitasari
BBM: 7D1AD62E
WA/LINE: 085722096918

4. Pre Order Kupu-kupu Buku
Website: http://bitly.com/POSETELAHKAMUPERGI
SMS/WA: 082126981310
BBM: 547A4DF4

5. Pre Order Buka Buku
Website: bitly.com/2jqQh5k
SMS/WA: 089-888-999-50

6. Pre Order di Mizan Store
Line: @mizanstore (pakai @)
Website: http://bitly.com/SetelahKamuPergi
Jika ingin mendapatkan bonus di atas, mohon langsung hubungan salah satu kontak pre order #SetelahKamuPergi ya :) Karena jumlah buku sangat terbatas. Terima kasih.

Baca Teaser buku #SetelahKamuPergi di sini :)

MEET AND GREET DWITASARI DI JOGJA DAN SOLO. Klik di sini :)

02 January 2017

Workshop Penulisan Novel di BANDUNG! :)






Halo, Bandung! :) Aku bakalan datang ke Bandung untuk berbagi ilmu mengenai dunia penulisan novel dan cara mendulung rezeki hanya dengan menjadi penggalau elegan. :'D

* Nah, bakalan ngapain aja di talkshow dan workshop bersama Dwitasari?
1. Ngobrolin tentang kiat-kiat jadi penulis novel kreatif yang nggak bakalan kehabisan ide
2. Membocorkan rahasia agar novel selesai dan diterbitkan penerbit besar
3. Kiat mandiri dalam mengatur keuangan kamu cuma dengan galau dan nulis novel
4. Menjadi penulis kreatif yang idenya tak lekang oleh zaman
5. Cara bahagia meskipun ditinggalin pas lagi cinta-cintanya (Yang ini serius pisan, buat single hitz di Bandung harus banget dateng)
6. Curhat, foto, dan booksigning bareng aku

* Fasilitas:
1. Ilmu baru
2. Kenalan baru
3. Gebetan baru
4. Pemandangan baru
5. Sertifikat
6. Snack

* Waktu dan Tempat:
Minggu, 8 Januari 2017, pukul 08.00 @ Auditorium Politeknik Pos Indonesia, Bandung

* HTM:
Pre Sale: 25.000 (13-25 Des 2016)
Pre Sale 2: 27.000 (26 Des 2016 - 5 Januari 2017)
On The Spot: 30.000

* Kontak Pemesanan Tiket:
LINE: omegaputis
SMS/WA: 0878-2220-3931

Tiket terbatas untuk yang paling cepet pesan tiketnya. Nggak tanggung jawab kalau kehabisan 😘😘😘 Sampai bertemu di Bandung! ☺️