09 December 2015

Seratus enam puluh delapan hari setelah perpisahan kita

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Sembilan Puluh Delapan Hari Tanpamu

Malam ini, aku sedang merangkul kekasihku di depan balkon kamar kosku. Kami memandangi hujan di langit Depok. Tidak ada kehangatan di sini. Pikiranku kosong. Sisa perayaan kecil-kecilan ulang tahunku masih ada di meja balkon. Kue ulang tahun yang sisa sedikit, beberapa botol soft drink, dan asbak penuh asap rokok milik teman-temanku. Di hari ulang tahunku yang ke dua puluh empat dan aku merasa semua hampa. Gadis di sampingku masih terus mengucapkan doa-doa sederhananya, doa yang berisi tentang kebahagiaanku, yang dia harapkan ada sosoknya dalam setiap kebahagiaanku. 

Derasnya hujan berubah jadi rintik-rintik. Dalam dinginnya malam seperti ini, aku berharap kamulah gadis yang aku peluk di tengah hari bahagiaku. Sedihnya hatiku tak mampu lagi ditolong sebungkus rokok yang telah aku habiskan seharian ini. Aku  merindukanmu, sungguh. Dan aku masih berharap kamu tiba-tiba berada di depan pagar kosku, tidak perlu ada kue ulang tahun ataupun kado, aku hanya ingin melihatmu. Melihat gadis yang tidak aku ketahui bagaimana wajahnya sekarang. Mungkin, kamu lebih menggemaskan, atau senyummu tentu jauh lebih mudah untuk dirindukan. Aku masih terdiam sementara kekasihku masih terus merancau tak tentu arah.

Memang, pesan singkatmu tadi pagi sedikit mengobati rinduku, walaupun tak sepenuhnya mengobati. Ucapanmu melalui pesan singkat itu cukup membuatku merasa sedikit lebih baik. Setidaknya, hari ulang tahunku tidak sesedih yang aku harapkan. Kamu ternyata masih mengingatnya, seperti aku yang masih mengingat hari ulang tahunmu di tanggal delapan Desember itu. Tapi, aku tidak seberani kamu. Di hari bahagiamu, di umurmu yang ke dua puluh satu, aku tidak mengucapkan doa ataupun pesan singkat yang aku kirim padamu. Karena aku tidak seberani itu, karena aku pengecut, karena aku pecundang, karena kalau kekasihku sampai tahu-- dia tentu akan memakimu. Aku tidak ingin mendengar makiannya tentangmu, aku tidak ingin mendengarkan ucapan-ucapan tidak menyenangkan yang keluar dari bibirnya tentangmu, karena semakin dia memakimu semakin aku menyadari bahwa bukanlah gadis seperti dia yang aku cari. Kamulah satu-satunya yang aku cari meskipun pada akhirnya aku memilih untuk melepaskanmu pergi.

Dwita, delapan Desember kemarin, usiamu telah dua puluh satu tahun, dan hari ini aku berusia dua puluh empat tahun. Lihatlah, ada banyak hal yang berbeda. Kita semakin menua dan aku takut menerima kenyataan bahwa mungkin aku akan menua serta melanjutkan hidupku bersama orang yang salah. Aku takut menerima kenyataan bahwa mungkin aku tidak menghabiskan sisa umurku bersamamu. Aku takut jika setahun ke depan, dua tahun ke depan, hingga tahun-tahun berikutnya diisi oleh penyesalan-penyesalan bodoh karena telah melepaskanmu pergi. Aku takut hari-hariku diisi hanya dengan rasa bersalah karena sebagai pria-- aku tidak mampu membahagiakanmu.

Aku takut jika aku menua tanpa rasa bahagia. Aku takut selamanya hidupku hanya diisi untuk melindungi kekasihku yang tidak sepenuhnya aku cintai ini. Aku takut jika duniaku masih penuh tentangmu sementara dalam duniamu tentu sudah tidak ada aku berotasi di sana. Dwita, kalau boleh aku mengaku, dalam rangkulan kekasihku, tidak aku temukan kebahagiaan apapun. Aku tidak mengerti mengapa setiap aku merangkul dan memeluknya, aku malah merasa bahwa semakin hari aku semakin dekat ke dalam neraka yang seharusnya aku jauhi. Aku tidak mengerti mengapa dia tidak bisa memberi pelukan yang hangat sehangat pelukmu. Aku tidak mengerti mengapa kekasihku tidak bisa meneduhkan diriku seperti kamu meneduhkan diriku saat sekejap aku melihat matamu. Aku tidak mengerti mengapa aku semakin merasa kehilangan kamu justru di saat kita tidak lagi bersama.

Ketakutan-ketakutan itu membuat aku semakin cepat menghabiskan sebatang rokok di jemariku. Aku izin melepaskan rangkulan peluk kekasihku dan memasuki kamar kosku. Wajah cemberutnya seketika terlihat masam ketika aku memutuskan untuk meninggalkan dia beberapa saat. Aku masuk ke kamar kosku. Membuka laptopku. Memutar lagu Taylor Swift kesukaanmu. Seketika aku memejamkan mata, seandainya kamu ada di sini. Seandainya kamu ada di sini. Kubuka sisa-sisa foto kita yang telah aku hapus dari ponsel, namun diam-diam aku simpan di laptopku.

Lihatlah matamu itu, sinar mata kesukaanku. Lihatlah senyum kebahagiaan kita dulu, betapa aku ingin memutar ulang waktu agar bisa terus bersamamu. Lihatlah caramu menatapku dengan tatapan mendalam itu, aku tahu betapa dulu kita sangat jatuh cinta. Dan suara Taylor Swift masih menggema di kamar kosku, yang membuatku semakin pedih mengingatmu. Kututup wajah dan foto-foto kita. Aku kencangkan volume lagu Taylor Swift kecintaanmu. Kemudian, aku menghampiri kekasihku di luar balkon kamar kosku. Aku duduk sebentar di sampingnya, sebelum dia memelukku lebih lama lagi aku sudah ambil posisi untuk berdiri. 

Aku rapatkan tubuhku pada sandaran balkon yang menghadap ke luar pagar kamar kosku. Aku bakar lagi satu batang rokok milikku. Aku resapi setiap kali Taylor Swift berkata dan berbisik. Aku tatap dalam-dalam pagar kosku. Aku berharap kamu di sana. Aku berharap kamu di sana. Aku berharap kamu di depan pagar kosku. Mengucapkan selamat ulang tahun padaku sebelum malam berganti pagi. Sebelum hari ini berganti menjadi besok. 

Taylor Swift masih bernyanyi. Lagu Taylor Swift masih ada. Tapi kamu tidak ada.

Dari pria,
yang masih menangisi kepergianmu.


21 November 2015

Tujuh Bulan Tanpamu



#SerialTanpamu

Hari-hariku disibukan oleh menulis buku kesembilanku berjudul "Cerita Kita = Cinta", setelah buku itu terbit; aku kembali menyibukan diriku dengan tugas kuliah, dengan tugas-tugas yang membuatku lelah. Semua aku lakukan agar aku tidak punya waktu untuk mengingatmu, agar aku tidak lagi menangisimu.

Sehari setelah kamu pergi, aku merasa duniaku tidak lagi berotasi dengan normal. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa menatap senyummu, tanpa melihat sosokmu, tanpa membaca pesan singkatmu, dan tanpa mendengar suaramu. Hari-hari yang aku lewati tanpamu adalah hari-hari penuh ketakutan. Dalam hati, aku berharap kamu pulang, namun nampaknya wanita yang telah bersamamu saat ini tidak mungkin mengikhlaskan dirimu kembali padaku.

Satu minggu menangisimu, nyatanya belum cukup bagiku. Aku masih meratapi kepergianmu bahkan saat satu bulan kita berpisah. Dua bulan ketika kamu tidak lagi bersamaku, entah mengapa semua rasa sesak masih tidak beranjak. Setiap kali aku menatap salah satu sudut di FIB UI, selalu mengingatkan aku pada sosokmu. Aku ingat saat kamu membiarkan tubuhmu basah oleh hujan senja kemudian kamu menjemputku di depan salah satu kafe di FIB UI. Hingga saat ini, setiap kali aku menatap tempatmu berdiri saat itu, rasanya aku ingin memutar ulang kejadian tujuh bulan yang lalu. Saat kamu masih seutuhnya milikku, saat aku duduk di sepada motor Honda CBR-mu, saat aku memelukmu begitu erat dan kita menyanyikan lagu Taylor Swift seperti orang kesetanan saat menunggu lampu merah.

Karena tahu melupakanmu bukan perkara mudah, tiga bulan berikutnya— aku memutuskan untuk mengasingkan diri ke Uluwatu, Bali. Namun, nyatanya, bayang-bayangmu kian membesar. Semua kenangan kita, yang harusnya aku lupakan itu, justru makin membesar setiap kali aku melihat deburan ombak di pantai sekitaran Bali. Kamu menjelma menjadi apapun yang aku lihat serta aku rasa, dan aku semakin membenci diriku sendiri karena tidak mampu melupakanmu.

Sakit hatiku ternyata masih berusia panjang, di empat bulan dalam proses melupakanmu, aku masih menemukan diriku yang masih sering menangisimu. Bahkan, di lima bulan setelah kamu pergi, menariknya Wat Arun di Bangkok dan gemulai banci-banci di pementasan Alchazar, Pattaya, tidak kunjung membuat kesedihanku pergi. Cerahnya matahari di Thailand tidak memunculkan kebahagiaan apapun. Kamu masih di sini, di relung hatiku yang sepi.

Setelah enam bulan kepergianmu, aku menyadari bahwa selama ini hari-hari yang berjalan terlihat semakin menakutkan. Aku sudah melupakan rasa sakit saat pertama kali kamu tinggalkan, tapi setiap kali mengingatmu— perlahan air mataku jatuh tidak terkendali. Aku memaksa diriku untuk berubah, untuk segera melupakanmu, untuk melupakan kenangan saat kita makan sate berdua di sekitaran jalan Margonda, untuk melupakan logat Bengkulu-mu, untuk melupakan suara berisik sepeda motormu, untuk melupakan kita; tapi aku tidak bisa.

Kemarin, 20 November 2015 adalah tanggal jadian kita dulu. Selamat gagal tujuh bulan untukmu dan selamat gagal tujuh bulan karena aku tidak berhasil melupakanmu. Kini, aku merasa semakin bodoh, karena aku tidak sekuat dan seikhlas itu untuk menerima kenyataan— bahwa kita tak lagi sejalan.

Baca semua #SerialTanpamu di sini :)

26 October 2015

Telah Terbit Novel Dwitasari berjudul "Cerita Kita #SamaDenganCinta"




Judul Buku: Cerita Kita = Cinta
Penulis: Dwitasari
Penerbit: Bukune, 2015
Ketebalan: 180 halaman
Harga: Rp48.000

TELAH TERBIT
Di toko buku Gramedia, Gunung Agung, TM Bookstore, dan Togamas terdekat di kota kamu~ 

Sinopsis:

“Aku hanya ingin bertemu dan menatapmu lebih dekat. Ada sesuatu yang ingin kulihat dari wajahmu, dan mungkin sesuatu itu adalah cinta. Aku tidak yakin, tetapi paling tidak, aku telah berusaha walaupun sebatas surat seperti ini.”

Pede banget mau nemuin, lagian siapa juga yang mau? ketus Zia dalam hati. Zia yang pendiam dan tidak banyak bicara itu memang sering melakukannya. Dia banyak memendam keluhan dalam hati.

Hidup Zia mulai berubah sejak dia mendapatkan surat cinta misterius di loker sekolahnya tiap pagi. Dia tak pernah menyangka kalau surat itu justru dikirim oleh Valent, pria paling eksis di SMA Cipta Mulia yang dia sukai. 



Di sisi lain, Valent berusaha mendapatkan perhatian Zia dengan menjadi sosok yang misterius dan romantis, oleh karena itu dia meminta bantuan Lily. Lily adalah penulis muda yang karyanya diisukan plagiat. Gadis itu sempat kehilangan kepercayaan dirinya untuk menulis, tapi pertemuannya dengan Aldo mengubah semuanya.



Melalui tokoh-tokoh dalam buku ini, Dwitasari menuturkan segala hal tentang pertemuan, rindu, takut akan kehilangan, hingga rasa sakit yang dikemas dalam bentuk cerita yang saling berkaitan antara tokoh satu dengan tokoh lainnya. Dan jangan lupa, kisah yang setiap tokoh dalam buku ini alami, juga adalah kisahmu. Selamat membaca kisahmu sendiri dalam buku ini!

16 October 2015

Apakah kita akan bertemu?



Aku masih belum tidur meskipun tubuhku lelah dihabisi gerakan Yoga malam tadi. Dan, aku masih di depan laptopku, mendengarkan suara air conditioner yang makin lama membuat kamarku makin sunyi. Hidupku semakin sunyi, apalagi semenjak kamu pergi.

Mataku masih menatap layar laptop sambil terus memperhatikan barisan abjad yang harus aku koreksi ulang. Buku kedelapanku, Sama Dengan Cinta, segera terbit, buku yang aku ceritakan padamu, yang dengan bangga kausambut dengan tepuk tangan riuh. Mas, betapa aku rindu candaanmu, betapa aku rindu hangatnya perhatianmu, dan betapa aku kedinginan menantimu pulang meskipun hujan yang turun tidak akan membuatmu segera pulang ke rumahmu-- ke rumah kita.

Aku sedang membaca bagian "Pemuja Rahasia" di buku kedelapanku. Seketika, aku sedang memposisikan diriku yang memujamu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kamulah gambaran pria sempurna yang aku impikan. Manis, humoris, kulit eksotis, memesona, pandai, gondrong, mendhok, sangat Jawa sekali. Singkatnya, aku tidak bisa menolak untuk tidak mencintaimu. Kamulah jawaban dari semua doaku. Aku mengira kamulah yang akan tetap tinggal, hingga setiap doaku selalu terselip namamu, hingga setiap jantungku mendenyutkan namamu. Namun, nyatanya? Kamu pergi begitu saja, menganggapku sama seperti perempuan lainnya, memposisikan aku sebagai pemuja, bukan pencinta. Padahal, kalau boleh sedikit berbisik di telingamu, aku ingin mengatakan bahwa aku bukan sekadar fansmu, aku penggemarmu nomor satu, yang dengan senang hati; akan berjanji membahagiakanmu-- jika suatu hari kamu milikku nanti.

Kepergianmu yang tiba-tiba adalah kiamat kecil bagiku. Tahukah kamu rasanya menjadi seorang perempuan yang setiap hari menatap ponselnya hanya untuk menunggu chat-mu? Tahukah kamu rasanya jadi seseorang yang diam-diam memperhatikan seluruh sosial mediamu hanya untuk mengobati perih dan sakitnya rindu? Tahukah kamu betapa menderitanya jadi seorang gadis yang hanya bisa berprasangka, hanya bisa mengira, hanya bisa menerka bagaimana perasaanmu padaku selama ini? Tahukah kamu begitu tersiksanya hidup menjadi orang yang selalu bertanya-tanya, ke sana ke mari, mencarimu ke mana-mana, sementara kamu melenggang seenaknya seakan tidak terjadi apa-apa di antara kita? Tahukah kamu perihnya menahan diri untuk tidak menghubungimu lebih dahulu karena aku begitu tahu diri bahwa kita tidak pernah ada dalam status dan kejelasan? Tahukah kamu lelahnya menjadi orang yang terus berharap, terus berkata dalam hati, begitu percaya bahwa suatu hari kamu akan kembali?

"Dia pasti chat aku, kok. Satu hari lagi. Dua hari lagi. Satu minggu lagi. Dua minggu lagi. Tiga minggu lagi. Satu bulan." Dan, aku masih menghitung hari, menunggu kamu pulang, menunggu ingatanmu kembali padaku. Tahukah kamu betapa tersiksanya aku ketika kamu tidak memberi kabarmu, ketika kamu tidak menyapaku, ketika tak ada lagi percakapan di antara kita, dan ketika kamu tiba-tiba menghempaskanku ke dasar daratan, ketika kita sedang asik-asiknya terbang bersama? Katakan padaku, bahwa aku terlalu berlebihan, aku terlalu berdrama, aku terlalu membawa perasaan. Aku tidak peduli apa kata orang, mereka tidak pernah paham betapa dalamnya perasaanku, seperti kamu yang tidak pernah mengerti betapa aku mencintaimu.

Aku merindukan caramu memperlakukanku seperti perempuan Sunda, memanggilku dengan panggilan "Teteh", padahal kamu jelas tahu-- rumah simbahku dan rumah ayahku yang ada di Prawirotaman, Jogja itu. Aku rindu semua pertanyaan yang kamu lontarkan padaku di tengah-tengah kesibukanmu. Aku rindu caramu membalas pesanku dengan tergesa-gesa, lalu meninggalkanku lagi untuk beberapa jam, lalu menyapaku setelah pekerjaanmu selesai. Betapa aku rindu menit-menit singkat yang aku lewati, meskipun aku harus melewati belasan jam dalam sehari, hanya untuk enam puluh menit berharga bersamamu.

Mungkin, kamu selalu bertanya, mengapa aku bisa dengan mudah jatuh cinta padamu? Kalau aku bercerita panjang lebar, tentu ceritaku akan jadi buku kesembilanku. Dengarlah, duduklah di hadapanku, dan tatap mataku dalam-dalam. Aku sudah memperhatikanmu, bertahun-tahun, bahkan sebelum kita saling mengenal, bahkan sebelum insiden kamu salah mengirim chat, bahkan sebelum kita begitu dekat. Aku sudah menjadi pemuja rahasiamu, bahkan sebelum kita saling menyapa. Aku sudah mencintaimu jauh-jauh hari, meskipun aku tidak pernah tahu siapa dirimu, bagaimana keseharianmu, siapa saja kekasihmu, siapa saja gebetanmu. Bagiku, semua itu tak penting. Aku mencintaimu. Mencintaimu. Mencintaimu. Dan, akan terus begitu. Meskipun kamu, sekali lagi, tidak akan pernah tahu.

Aku masih menanti, suatu hari kamu akan memperlakukanku sehangat kemarin. Dan kita tertawa, bercanda, memeluk awan, meraih bintang, menari bahagia di permukaan Saturnus. Aku masih menunggu, hari-hari saat kamu kembali. Dan aku bisa rasakan hangatnya pelukmu yang dulu pernah menjadi mimpi kecilku, bisa aku rasakan desah napasmu ketika kamu berbisik di telingaku, bisa aku rasakan denyut jantungmu ketika peluk kita begitu erat hingga sulit dilepaskan, bisa aku dengar suara mendhok-mu yang menyanyikan lagu JKT48, bisa aku rasakan rapatnya jemarimu ketika memegang jemariku, dan aku bersumpah demi apapun tidak akan melepaskanmu.

Aku masih menanti, pertemuan kita yang segera terjadi. Beberapa hari lagi, aku akan ke kotamu, ke kota kita, Jogjakarta. Aku dan penerbitku menyapa para sahabat pembaca di Jogjakarta, Solo, dan Semarang; dalam acara Meet And Greet bersama Dwitasari. Sungguh, aku tidak berharap lebih. Seandainya bisa bertemu denganmu, aku hanya ingin menatap sinar matamu, mata yang entah mengapa selalu membuatku percaya, masih ada cinta di sana.

Sungguh, aku tidak berharap lebih. Keinginanku sederhana. Kita duduk berdua saja, di Alun-alun Selatan Jogjakarta. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya hati kita yang saling menghampiri. Kamu menggenggam jemariku, aku menggenggam jemarimu. Kita menghela napas sesaat, masih tak percaya bahwa pada akhirnya kita sampai di titik ini. Dulu, aku hanya bisa menatap chat-mu, namun pada akhirnya aku bisa benar-benar menatapmu. Lalu, kamu memandangiku, aku memandangimu. Kamu mendekat. Semakin dekat. Bisa aku rasakan aroma tubuhmu. Bisa aku rasakan rambut gondrongmu menyentuh wajahku. Kita.....

Beranikah? Aku menantangmu.

Dari Dwita-mu,
yang memuja kepolosanmu.

14 October 2015

#MeetAndGreetDwitasari di SEMARANG, SOLO, JOGJAKARTA :)


Halo, SEMARANG, SOLO, JOGJAKARTA! Dateng ke #MeetAndGreetDwitasari di kota kamu, yuk! :)

Di #MeetAndGreetDwitasari bakalan ngapain aja?
1. Talkshow bareng Kak Dwitasari
2. Ngobrolin buku Kak Dwitasari
3. Tanya-jawab bareng Kak Dwitasari
4. Kepoin asal-usul buku Kak Dwitasari
5. Tanda tangan buku Kak Dwitasari

Yuk, catat tanggal dan tempat #MeetAndGreetDwitasari ya:
1. GRAMEDIA PANDANARAN (SEMARANG)
Jumat, 23 Oktober 2015 pukul 16.00 - 17.30

2. TOGAMAS SOLO (SOLO)
Sabtu, 24 Oktober 2015 pukul 14.00 - 15.30

3. TOGAMAS AFFANDI (JOGJA)
Minggu, 25 Oktober 2015 pukul 18.30 - 20.00

Acara #MeetAndGreetDwitasari ini GRATIS dan untuk UMUM! Jangan lupa daftarkan nama kamu, boleh sekalian nama temen-temen kamu yang mau dateng, ya! :) Ingat, hanya ada 200 seat.

Cara Daftar Bisa pilih salah satu di bawah ini:
1. Daftar Via SMS/WA: 0898-5080-782 (Pipit)
Format Daftarnya: Daftar_Nama_Dateng ke #MeetAndGreetDwitasari daerah mana
Contoh: Daftar_Ariana Grande_Semarang

Terima kasih dan sampai jumpa di #MeetAndGreetDwitasari

Like and share :)

08 October 2015

Dwitasari Workshop di Malang :)


Halo, Malang! Udah pernah ngerasain belajar nulis bareng aku, talk show, curhat bareng aku, dan praktek menulis langsung bareng aku? Kalau belum, mending langsung ikutan seminar yang diadakan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, yuk! :)

Di Seminar ini bakalan ngapain aja?
1. Dikasih motivasi supaya makin semangat nulis (oleh Pak Jefri Akbar, motivator nasional, HRD Manager PT Malindo Feedmil)
2. Langkah-langkah penulisan karya ilmiah yang baik dan yang benar (oleh Bu Heny Kusdiyanti, Dosen FE UM, Ketua Asosiasi Sarjana dan Praktisi Administrasi Perkantoran Indonesia)
3. Belajar bareng mengenai cara menulis karya fiksi (novel dan cerpen) dengan baik bersama Kak Dwitasari
4. Curhat bareng Dwitasari
5. Praktek nulis langsung bersama Dwitasari
6. Talkshow bersama Dwitasari
7. Bawa buku yang ditulis Dwitasari, ya! Bisa sekalian minta tanda tangan juga. :")

Kapan dan di mana seminar diadakan?
Tanggal: Kamis, 22 Oktober 2015 (07.00-13.00)
Tempat: Aula Gedung D4 Lt. 4, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Malang

Berapa Harga Tiket Masuk (HTM)?
Umum: Rp30.000
Pelajar/Mahasiswa: Rp25.000
Dapet sertifikat, makan siang, dan seminar kit :)

Pesan tiketnya ke mana?
WA/SMS: 0857-9047-1289 (Sultan)
PIN BB: 74537435
Stand Tiket depan SIGMA, Gedung E4, FE Universitas Negeri Malang

Yuk, ajak temen, sahabat, sahabat yang nusuk dari belakang, pacar, gebetan, mantan, calon mertua, buat belajar nulis bareng! :D Bisa curhat bareng Kak dwitasari juga, lho~ Hanya tersisa 200 tiket, ya! Siapa cepat, dia yang dapat! Sampai jumpa di Malang! :*

07 October 2015

Seandainya kamu tahu

Keinginanku sederhana, bisa memelukmu begitu erat, di bawah langit Jogja, yang dihiasi kembang api malam ini. Selamat merayakan ketidakmungkinan di antara kita. Selamat ulang tahun Jogjakarta.

03 October 2015

Aku Berharap Itu Kamu

Aku termangu di depan laptopku dengan sisa-sisa kekuatan yang aku punya. Aku baru saja membaca layout buku Sama Dengan Cinta yang akan terbit akhir Oktober ini. Setiap detail dalam buku itu benar-benar aku perhatikan, aku menyibukan diriku demi melupakanmu. Untungnya, aku sedang sibuk mengerjakan novel kedelapanku, dan ini sedikit membantuku untuk melupakan kenangan tentangmu, meskipun tak seutuhnya membantu.

Mungkin, kamu tidak akan membaca tulisan ini, tapi Dwita-mu akan selalu menulis tentangmu, meskipun aku pun tahu-- kamu tidak akan pernah tahu. Kamu tidak akan pernah tahu betapa tersiksanya hari-hariku tanpa mengetahui kabar darimu. Kamu tidak akan mengerti betapa dadaku sesak setiap memikirkanmu. Kamu tidak akan pernah menyadari betapa rindu di dadaku layaknya kelinci nakal yang memaksa keluar kandang meskipun tahu bahwa dunia luar sungguhlah tidak aman untuk sang kelinci, meskipun aku tahu duniamu bukanlah dunia yang aman untukku.

Berhari-hari, aku berusaha mengisi waktu luangku, dengan apapun yang bisa aku kerjakan agar aku tidak punya waktu bahkan sedetik saja untuk mengingatmu. Karena kamu sudah begitu lekat di sana, karena dirimu sudah punya tempat tetap di sana; di hatiku yang nyatanya belum dihuni orang lain selain dirimu. Dan, aku belum menemukan cara terbaik untuk menghilangkanmu, kamu selalu kembali teringat lagi ketika aku berusaha mengusirmu pergi. Entahlah, mungkin memang kamu diciptakan untuk tetap tinggal, meskipun sebenarnya kebersamaan aku dan kamu tak lagi ada.

Aku memaksa diriku untuk melupakan rambut gondrongmu, untuk tak lagi mengingat suara mendhok-mu, untuk membakar semua memori tentang kebahagiaanmu saat bercerita tentang JKT48, untuk memudarkan senyummu di otakku, untuk menghilangkan jutaan deretan huruf dan angka yang muncul dalam chat kita, untuk mengusir semua rasa cinta-- dan aku mutlak gagal. Aku harus menerima kenyataan bahwa kamu mungkin akan selalu berdiam di sana, di hatiku yang telah kamu patahkan berkali-kali, namun aku maafkanmu lagi dan lagi.

Salahkan aku jika ini berlebihan, tapi aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertarik padamu. Pertama kali melihat semua karyamu, melihat polah tingkahmu, mendengar suaramu, melirik senyummu, dan membaca semua chat kita-- sungguh aku tak bisa menahan diri untuk tidak mencintaimu. Meskipun aku tahu mencintaimu adalah awal tragedi buatku, karena aku pasti harus cemburu pada ribuan fansmu, aku harus makan hati karena chat-ku tidak dibalas berkali-kali, dan aku harus berusaha sekuat mungkin untuk mempertahankanmu. Ya, perjuanganku untuk mencintaimu memang sangat berat, bahkan aku sudah kehilanganmu sebelum aku sempat memilikimu. 

Tulisan ini sungguh sangat tidak penting, hanya berisi tangis seorang gadis berumur belasan yang meminta kejelasan. Lalu, apa artinya chat kita hingga larut malam yang bisa membuatku tertawa tak henti itu? Lalu, apa maksudnya kata-kata lembutmu yang bisa menyihirku dalam asa semua? Lalu, apa tujuan dari semua ketika aku mulai jatuh cinta lalu kaupergi seenaknya? Nah, jika kamu membaca ini, tentu kamu akan balik bertanya, "Memangnya kamu siapa?" Aku jelas bukan siapa-siapa dan mungkin aku hanyalah perempuan bodoh yang terlalu menggunakan perasaan, yang tak berpikir bahwa berlian sepertimu tak mungkin jatuh cinta pada tanah liat sepertiku. Seharusnya, aku memang sadar diri, sejak awal percakapan kita itu, aku semestinya tak perlu berharap lebih.

Aku pun ingin berpikir logis, aku pun ingin menggunakan logikaku, dan aku pun ingin tidak sepeka pria, karena menjadi perempuan peka sungguhlah melelahkan. Aku pun ingin tak berharap lebih, tapi aku sudah mencintaimu, dan bagaimana caranya mengantisipasi semua luka jika kamu tidak akan pernah kembali lagi untuk sekadar mengobati perihku? Aku pun ingin melupakanmu, tapi saat tahu bahwa bersamamu sungguhlah menyenangkan, rasanya sangat sulit untuk melupakanmu hanya dalam hitungan hari. Aku pun ingin menjauh dari semua bayangmu, tapi diriku selalu menginginkanmu, mataku hanya mau membaca semua chat darimu, dan hatiku hanya menuju padamu. Lantas, di dinginnya kota Bogor malam ini, aku hanya menyesali semua air mata yang terjatuh sia-sia untukmu.

Aku sungguh jatuh cinta padamu dan rasanya sangat sulit menerima kenyataan bahwa kita tidak lagi bercakap-cakap sesering dulu lagi. Dalam kesibukanmu, aku selalu menatap ponselku. Setiap ada pemberitahuan masuk, aku berharap itu kamu. Setiap ponselku berdering, aku berharap itu kamu. Setiap sebuah chat masuk, aku berharap itu kamu. Setiap layar ponseku menyala, aku berharap itu kamu. Setiap ponselku berbunyi, aku berharap itu kamu.

Aku berharap itu kamu, yang memegang jemariku kala aku kebingungan menentukan arah hidupku. Aku berharap itu kamu, pria yang dengan lembut memelukku ketika aku kelelahan menghadapi dunia. Aku berharap itu kamu, yang menemaniku keliling-keliling Jogjakarta, di bawah sinaran lampu jalanan, dan aku memelukmu layaknya orang yang paling takut kehilangan. Aku berharap itu kamu, pria yang mengecupku dengan sangat pelan, menenangkan tangisku yang sesenggukan, dan berkata bahwa semua akan tetap berjalan.

Aku berharap itu kamu, wahai penghulu malaikat yang berperang melawan setan dan kejahatan. Aku berharap itu kamu, racunku yang juga adalah penenangku. 


dari Dwita-mu,
yang masih terus diam-diam;
menunggumu.

26 September 2015

Kamulah Orangnya


Pertama kali menjabat tanganmu di SCBD, aku tahu; "kamulah orangnya". Aku nggak tahu. Aku percaya aja kalau kamu orangnya. Aku juga sempat kasih buku Raksasa Dari Jogja meskipun buku itu langsung kamu kasih ke ajudan kamu yang rambutnya sangat pendek dan rapi itu. Waktu itu kamu masih jadi gubernur Jakarta, pakai kemeja putih, pakai sneakers, dan cerita santai soal bisnis kamu. Saat itu sekaligus perkenalan buku Pak Chairul Tanjung.

Aku nggak tahu, aku sepercaya itu sama kamu. Bisa percaya sama kamu. Waktu aku ikut gerakan ‪#‎AkhirnyaMilihJokowi‬, aku tetap percaya; "kamulah orangnya". Tahu nggak, sih, bahkan aku sudah lebih dulu percaya bahwa "kamulah orangnya" waktu kita ketemu pertama kali itu?

Aku nggak tahu, kenapa aku masih tetap percaya kamu, waktu dollar naik dan semua orang mengujat kamu, tapi aku nggak bisa ikutan ngehujat. Aku nggak tahu, kenapa setiap Mamaku bilang listrik mahal dan marah-marah, aku cuma minta nomor pelanggan PLN, buka laptop, ambil token Banking BCA, dan bayar listrik sebelum tanggal 10. Aku nggak tahu, kenapa aku nggak bisa ikutan marah-marah seperti Mamaku.

Aku nggak tahu, kenapa setiap Mamaku bilang daging mahal, besoknya aku antar Mama ke Superindo daerah Cibinong, gesek debet Mandiri, dan Mamaku diam. Aku nggak tahu kenapa aku nggak bisa ikut-ikutan marah-marah kayak mereka yang bilang apa-apa mahal karena salah kamu.

Aku nggak tahu, Mas, saat semua orang bilang bayar pajak, tuh, begini begitu. Dan ini semua salah kamu, Mas, tapi kenapa aku nggak ngeluh saat antre di KPP Pratama Cibinong buat laporan pajak dari royalti buku dan bisnisku. Aku nggak tahu Mas kenapa aku nggak bisa ikut-ikutan marah-marahin kamu soal pajak. Dan, masa, sih, aku perlu cerita bahwa uangku dikembalikan bagian pajak sebanyak tujuh juta karena aku LB (Lebih Bayar) pajak. Ditransfer ke rekening dan prosesnya cuma sebulan setelah audit.

Aku nggak tahu, kenapa semua orang nyalahin kamu saat ada konflik agama. Sedangkan Papaku, yang setahun lalu aku antar ke Masjid Pemda Cibinong sebagai tempat titik kumpul untuk keberangkatan jemaah haji, santai-santai saja saat kakakku ingin menikah secara Kristen. Aku nggak tahu, semua orang menyalahkanmu soal konflik agama. Sedangkan setahun yang lalu, aku dan kakakku ikut menyiapkan baju doraemon berkantung warna putih sebagai baju santai Papa selama ibadah haji, kami bahkan mengambil bonus jubah putih yang dikasih Mandiri Tabungan Haji di Mandiri KCP Cibinong. Aku nggak tahu, kenapa semua orang menyalahkanmu soal agama, sedangkan aku dan keluargaku sesantai itu hidup dan mengenal dua agama.

Aku nggak tahu, Mas, nggak pernah tahu. Pasti karena tulisan ini bakalan ada orang yang bilang aku sombong, ditambah lagi hujatan "Kamu masih kecil. Nggak ngerti politik." Aku jadi pengin tahu rasanya jadi orang dewasa yang bisa sebebas mungkin menghujat kamu tapi nggak pernah tahu apa yang sebenarnya harus diperbaiki dalam dirinya sendiri.

Aku nggak tahu, wahai Mas Joko, kenapa aku masih begitu tenang nulis novel dan jalanin bisnisku, tapi mereka bisa sekocar-kocir itu, nyalah-nyalahin kamu, dan bilang kamu penyebab dari semua masalah di Indonesia. Aku jelas nggak tahu apa-apa, Mas Joko, aku hanya anak kecil ingusan yang nggak mau ikutan-ikutan jadi dewasa kalau arti dewasa sesungguhnya berarti menghujat dan menyalahkan kamu.

Aku nggak tahu kenapa aku nggak bisa kayak mereka. Sungguh, aku nggak tahu kenapa aku bisa jadi beda jauh sama mereka. Aku nggak tahu, Mas, kenapa bisa sepercaya ini sama kamu. Aku masih yakin "kamulah orangnya", yang dipilih Tuhan untuk mengubah segalanya.

Aku nggak mau, Mas, kalau harus jadi dewasa. Aku mau selamanya berumur 20 tahun agar aku selalu jatuh cinta padamu, berkali-kali, dan lupa kalau hubungan aku dan kamu hanya sebatas rakyat dan presiden.

Aku selalu percaya SEMUA INDAH PADA WAKTUNYA, Mas. Aku percaya kamu akan membuktikan semua, di waktu yang terbaik, di waktu yang Tuhan inginkan. Aku selalu percaya, Mas Jokowi, "kamulah orangnya".

- Dwitasari, 20 tahun, Mahasiswi

24 September 2015

Kamu Tidak Akan Pernah Tahu

Malam ini, hampir semua orang Jakarta mengumpat kesal karena kecelakaan kereta di Stasiun Juanda. Kereta yang terguling hingga keluar rel itu menyebabkan kemacetan di mana-mana, menghasilkan umpatan di penjuru stasiun, dan aku ada dalam salah satu orang yang merasakan betapa Jakarta-ku tidak semenyenangkan Jogja-mu. Aku memilih untuk menaiki salah satu ojeg berbasis online untuk menuju Depok dari Stasiun Tebet menuju meeting ketiga hari ini. Mungkin, kamu tidak akan pernah tahu, di tengah semerawutnya duniaku-- aku masih punya waktu untuk merindukanmu.

Dengan sisa kekuatan yang aku punya, aku sampai di Margocity untuk melanjutkan meeting buku selanjutnya. Buku Mengais Masa Lalu segera terbit dan ada beberapa hal yang perlu dibicarakan dengan penerbitku. Pening akibat flu masih terasa begitu menusuk, aku pulang dengan menaiki taksi, dan tak lagi punya kuasa untuk menggerakan tubuhku. Di sepanjang jalan, aku mendengar suara gema takbir, yang mengingatkanku pada riuhnya suara takbir di Jogjakarta. Aku ingin pulang dan lelah dengan semuanya. Meskipun aku selalu jatuh cinta pada pekerjaanku, tapi aku pun ingin tahu rasanya jatuh cinta dan tergila-gila pada seseorang sepertimu. 

Sekarang, aku terbaring lemah di ranjangku, dan hanya bisa membaca ulang percakapan kita beberapa hari yang lalu. Mungkin, kamu tidak akan pernah tahu, di tengah kelelahanku sebenarnya aku masih membutuhkanmu. Kalau boleh jujur, aku sangat ingin ditenangkan oleh percakapan kita seperti beberapa hari yang lalu. Saat kamu menanyakan apa saja yang sudah aku makan, saat kamu menasehatiku banyak hal, saat kamu membuatku semakin merindukan Jogjakarta, saat kamu bercerita tentang pekerjaanmu hari ini, saat kamu selalu berhasil membuatku tertawa, dan saat kita masih dalam keadaan baik-baik saja.

Aku tidak berkata bahwa saat ini kita tidak baik-baik saja, tapi bisakah kau menjawab apa yang terjadi di antara dua orang; yang sekarang tidak lagi saling menyapa ketika beberapa hari yang lalu mereka masih bisa tertawa dan bercanda? Aku merindukanmu, merindukan percakapan kita hingga larut malam. Aku rindu diriku yang rela menunggumu hingga kamu selesai mengedit video dan pekerjaanmu. Aku rindu melihat ponselku hanya untuk membaca semua pesanmu. Aku rindu kebahagiaan kecil yang kau berikan padaku, kebahagiaan-kebahagiaan yang bahkan sulit untuk dijelaskan dan diartikan. Aku jelas jatuh cinta, sayangnya (mungkin) kamu tidak merasakan perasaan yang sama. 

Beberapa hari ini, aku menepis dan melawan keinginanku sendiri untuk tidak lagi mencari tahu tentangmu. Karena bagaimanapun aku menangis, mengeluh, bercerita di dunia maya, atau apapun itu-- tidak akan membuatmu paham dan mengerti. Ada gadis yang diam-diam mencintaimu dan kamu ikut diam seribu bahasa seakan kamu tidak bisa membaca semua tanda. Maka, aku salah dalam segala, karena tidak berani mengungkapkan perasaanku, dan semua orang tentu menyalahkanku, menyalahkan keadaan, dan menyalahkan ketololanku karena rasanya terlalu cepat jika aku jatuh cinta padamu. Lalu, apa salahnya jatuh cinta pada orang yang baru kita kenali? Apakah aku berdosa karena mencintaimu meskipun perkenalan kita hanya sebatas chat?

Kamu tidak akan pernah tahu ini semua dan tidak akan pernah tahu betapa aku lemas melihat salah satu foto Instagram-mu dengan seorang perempuan. Uh, iya, aku tahu, Dwita-mu ini terlalu sering pakai perasaan. Aku paham bahwa aku bukan tipemu, astaga perempuan sepertiku yang gampang nangis ini tidak akan pernah cocok bersanding dengan pria sekuat kamu. Tidak akan pernah dan aku sangat sadar soal itu. Apalagi berhak cemburu? Aku tahu, aku tidak punya hak, tidak punya wewenang untuk mengaturmu berfoto dengan siapapun. Yang aku tahu, aku mencintaimu, dan biarlah ini menjadi rahasiaku, dan biarlah ini menjadi perasaan yang selamanya (mungkin) tidak akan pernah kautahu. 

Jadi, biarkan Dwita-mu tetap jadi perempuan yang selalu diam. Karena dari semua diam itulah yang membuat dia bisa menghasilkan banyak tulisan. Jadi, aku akan terus diam, menatapmu dari jauh, mendoakanmu dari sini. Aku akan sukses dengan ceritaku. Kamu akan sukses dengan duniamu. Dan, dunia kita tidak akan pernah bertemu di satu titik meskipun sama-sama berjalan beriringan. Aku tahu, doa kita tidak akan pernah sama, aku mendoakanmu, kamu mendoakan entah. Tapi, percayalah, dari ribuan gadis yang memujamu, akan selalu ada aku yang berharap Tuhan selalu memelukmu dengan erat, seerat rinduku yang tidak pernah habis untukmu.

Aku ingin tertidur sambil mendengarkan lagu band-mu yang teriak-teriak itu. Berharap bisa teriak bersamamu, di Jogjakarta, di pantai manapun, asal sambil menggenggam jemarimu.


Dari Dwita-mu,
yang akan selalu diam-diam;
mencintaimu.

20 September 2015

Apakah Kamu Tahu?

Sebelum menulis ini, aku berusaha menghela napas beberapa kali. Aku baru selesai mengerjakan deadline novel yang akan terbit Oktober akhir di Bukune berjudul Sama Dengan Cinta. Tidak lelah, tapi aku sedikit gamang. Tidak mudah menyelesaikan tulisan dengan perasaan berantakan seperti saat ini. Helaan napasku sebenarnya sederhana, hanya untuk menguatkan diri agar luka ditinggalkanmu tidak terasa begitu sakit lagi. Namun, nyatanya, semakin aku berusaha melupakanmu, semakin aku tidak bisa menerima perubahan yang terjadi di antara kita.

Malam itu, insiden salah pencet ternyata membuat kita begitu dekat. Kamu yang ternyata salah memencet huruf di Line-mu malah berbuntut pada percakapan kita hingga larut malam. Meskipun hanya melalui deretan huruf dan angka, entah mengapa kamu berhasil membuatku percaya bahwa cinta yang tulus itu masih ada. Kamu membuat aku sedikit demi sedikit meredam keegoisanku, biasanya aku selalu menuntut seseorang yang aku cintai untuk membalas pesanku hanya dalam hitungan detik. Tapi, denganmu, rasanya aku mulai bisa menerima kesibukan seseorang yang aku cintai. 

Sehari setelah insiden yang berakhir menyenangkan itu. Aku mencari tahu tentangmu dari semua sosial mediamu. Kita mungkin telah lama saling tahu, tapi tak ada yang berani memulai lebih dulu. Aku mengintip Instagram-mu. Dan, kulihat seorang pria yang atraktif serta energik, pria yang berhasil meraup perhatianku tanpa sisa. Setiap polah tingkahmu, membuatku mulai mengagumi semua karyamu. Aku jatuh cinta pada suara mendhok-mu. Aku jatuh cinta pada semangatmu saat berbicara tentang JKT48. Aku jatuh cinta pada setiap gerak-gerik yang kamu tunjukan. Aku jatuh cinta pada rambut tipismu yang gondrong. Aku jatuh cinta pada mata merahmu yang selalu terlalu lelah. Aku jatuh cinta pada caramu bercerita tentang buku The Secret. Aku jatuh cinta, sayangnya kautidak.

Kamu berhasil memenjarakanku pada bayang-bayang yang aku buat sendiri. Ini bukan salahmu, jelas bukan salahmu, ini tentu salahku. Aku tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak mencintaimu. Kamu terlalu gemerlap buatku yang gelap. Sinaranmu terlalu terang untuk aku yang selalu gamang. Aku tidak bisa memaksa diriku sendiri untuk tidak mencari tahu tentangmu dan semakin aku tahu tentangmu-- semakin aku tidak ingin komunikasi kita terhenti secepat ini.

Hampir setiap hari, kerjaanku mengintip Instagram-mu di sela-sela kesibukanku. Memang, hal ini hanya dilakukan oleh pengecut sepertiku, atau hanya dilakukan oleh gadis-gadis yang mencintai suara dan karyamu. Aku juga sadar diri, dibandingkan mereka yang jauh lebih sempurna, aku layaknya asap rokok yang terlihat hitungan detik, lalu segera hilang diburu angin. Aku pun sadar, rasanya tidak pantas jika gadis sepertiku berharap lebih dekat denganmu. Ya, walaupun aku tahu memang tak mungkin, tapi setidaknya aku ingin memperpanjang waktu berkenalan denganmu, meskipun mungkin semua akan berakhir sama yaitu-- menyakitkan.

Aku tidak berharap lebih, harapanku sebenarnya hanya ingin waktu berkenalan denganmu bisa lebih panjang. Karena kamu berhasil membuatku nyaman dan jika sehari tidak mendengar kabarmu, rasanya seperti aku sedang menjalani hari tanpa melibatkan jiwaku di dalamnya. Aku masih berharap bisa membaca setiap pesanmu, meskipun hanya sebatas tulisan. Aku masih berharap bisa membicarakan banyak hal tentang Jogjakarta dan membicarakan hari-harimu yang menurutku terkesan begitu menyenangkan. 

Maafkan jika ini terasa berlebihan. Aku tidak peduli jika kamu menganggapku berdrama. Aku juga tidak peduli jika kamu menganggapku terlalu berlebihan. Aku tidak peduli jika kamu memilih menjauh setelah tahu bahwa aku cuma gadis bodoh yang selalu melibatkan perasaan dalam setiap peristiwa yang aku alami. Aku tidak peduli jika hilangnya percakapan kita sebagai akibat bahwa kamu hanya ingin kita berteman biasa. Mungkin, aku terlihat makin menyebalkan dengan sikapku yang berlebihan. Tapi, percayalah, sekarang aku dalam keadaan mulai mencintaimu, dan menerima kenyataan bahwa kita tak lagi sedekat dulu; cukup membuatku sekarat karena memikirkanmu. Dengarlah, bersamamu pun sudah cukup membuatku merasa ada, maka mengapa aku harus menuntutmu menjadi milikku seutuhnya?

Apakah kamu tahu betapa buramnya hari-hariku tanpamu? Apakah kamu paham betapa aku lelah membalas setiap chat dari pria-pria yang sebenarnya tidak menarik bagiku, tapi itu semua aku lakukan karena aku ingin melupakanmu? Apakah kamu sadar, bahwa setiap aku membalas chat dari pria-pria itu, aku selalu berharap bisa menemukan pria yang sangat mirip denganmu. Aku berharap bisa menemukan dirimu dalam diri pria-pria yang berjuang keras mendekatiku. Sadarkah kamu, bahwa sebenarnya selama ini aku hanya menginginkanmu dalam hari-hariku?

Apakah kamu tahu, aku masih berharap bahwa suatu saat kita bisa bertemu? Aku masih berharap bisa melewati jalan Solo bersamamu, melihat sekolah De Britto tempat kamu pernah mengenyam pendidikan, melewati kampusmu yang sudah terlihat dari jembatan layang, menikmati kembang api di Alun-alun Utara Jogjakarta, membicarakan apapun sambil menatap matamu, dan kita menghabiskan malam di Jogjakarta hingga tidak ada ruang di hatiku yang tersisa-- seutuhnya penuh untukmu.

Apakah kamu tahu, aku sudah memilihmu sejak pertama kali kamu salah memencet huruf di-chat kita? Apakah kamu tahu, aku telah menjadikanmu satu-satunya ketika mungkin kamu hanya menjadikanku salah satunya? Apakah kamu tahu, aku masih menunggumu, menunggu pertemuan kita di Jogjakarta, menunggu segalanya yang mungkin tidak akan jadi nyata? Apakah kamu tahu, aku berharap Tuhan memutar ulang waktu, sehingga aku masih punya kesempatan untuk memperbaiki semua. 

Beri aku kesempatan untuk menyanyikan cinta di telingamu. Beri aku kesempatan untuk menunjukan bahwa ketulusan itu masih ada. Beri aku kesempatan untuk memelukmu di bawah langit Jogja dan sekali lagi meyakinkanmu-- bahwa aku adalah penggemarmu nomor satu.


dari Dwita-mu
yang  diam-diam;
mendoakanmu.

01 September 2015

Sembilan puluh delapan hari tanpamu

#SerialTanpamu


Langit Depok siang tadi cukup terik. Aku terseok memasuki kelas dan menghadapi mata kuliah pukul dua siang. Mataku masih agak sembab dan perih, salahku yang sibuk menangisi seseorang. Saat dia menutup telepon dan menyuruh aku hanya menganggap dia teman biasa, rasanya duniaku berhenti sampai di situ. Aku menangis sejadi-jadinya sambil membekap wajahku di balik bantal. Aku patah hati lagi, padahal baru dua bulan ini aku merasa merdeka karena bisa melupakanmu. 

Kamu apa kabar? Sudah berapa bulan aku dan kamu tidak bertemu? Mungkin, terlalu panjang jika menyebut aku dan kamu, karena akupun terlalu takut untuk menyebut "kita", "kita" yang mungkin di matamu tak lagi ada. Aku ingin tahu siapa kekasihmu saat ini, bisa aku bayangkan betapa suksesnya hubungan kalian, sementara aku harus terjatuh untuk yang kedua kalinya. Kejadian semalam membuat aku kembali memaki diriku lagi dan aku sudah membayangkan hari-hari ini akan berlalu jadi makin panjang. Sewaktu ingin melupakanmu, Yo, kamu tentu tahu bahwa aku jungkir balik hanya untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak lagi sejalan. Rasanya memang tolol, Yo, tapi pada akhirnya aku menemukan seseorang yang lebih baik darimu, yang aku pikir bisa menjadi semestaku, yang aku pikir bisa mengerti duniaku seperti kamu mengerti isi kepalaku.

Kalau aku bercerita tentang pria ini boleh tidak, Yo? Aku tidak peduli kamu akan membaca ini atau tidak. Aku tidak peduli kamu akan melihat tulisan ini atau tidak. Kali ini, aku hanya ingin kamu mendengarkan, duduk diam saja tak perlu memberi solusi apapun. Saat ini, aku sedang membayangkan hal yang tidak akan terjadi. Aku sekarang sedang bersandar di bahumu, menangis sejadi-jadinya, terisak sekuatnya, dan kamu tentu hanya diam seperti orang bodoh-- seperti biasanya.

Aku mengenal pria ini beberapa bulan setelah hubungan kita berakhir. Kalau kamu mau tahu, hari-hari yang aku lewati tanpamu adalah neraka baru yang menyebalkan buatku. Setiap hari, aku harus meyakinkan diriku, bahwa tidak akan ada lagi sepeda motor Honda CBR yang mengantarkanku pulang hingga depan rumah. Setiap saat, aku memaksa diriku agar memahami keadaan, bahwa kamu tidak akan pernah tiba-tiba datang ke rumah hanya untuk berkata betapa kamu mencintaiku dan menganggap aku adalah bagian dari duniamu. Setiap menit, aku berusaha untuk menerima semua, bahwa asap rokokmu, yang aromanya sangat aku benci itu, tidak akan pernah melingkupi indra penciumanku. Bulan-bulan aku lalui dengan usaha-usaha kecil untuk memaafkan diriku sendiri, untuk berhenti menyesali keadaan, dan untuk percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

Dan, aku bertemu dengan pria ini. Si hitam manis yang membuat aku merasa sebahagia ketika bersamamu, bahkan lebih bahagia. Aku jatuh cinta dengannya, bahkan saat pertama kali aku berdebat mengenai universitas kami, mengenai IPK cumlaude-ku, tak lupa masalah-masalah di Indonesia. Aku mencintai pria itu, lebih besar daripada dulu aku mencintaimu, dia benar-benar membuat aku merasa bahwa kebebasan dan kebahagiaan setelah move on itu sungguhlah ada. Sejuta persen, aku melupakanmu, dan aku memuja dia dari ujung kaki hingga ujung kepala. 

Sayangnya, ya, sayangnya, gadis yang pernah menjadi mantan kekasihmu ini tidak punya daya dan upaya untuk membuat seorang pria tetap tinggal lebih lama. Dengan alasan ingin melanjutkan skripsi, dia meninggalkanku. Jangan tertawa! Tolong, jangan tertawa! Tapi, ya, memang semua terasa seperti drama. Putaran pertama sungguh istimewa, di tengah-tengah getaran makin menggila, lalu di akhir? Aku harus mengikhlaskan dia pergi. Kamu tentu mau tertawa mendengar ceritaku, sungguh, Yo, aku tidak bisa membayangkan parahnya melewati hari-hari ketika sedang patah hati.

Aku pernah tahu rasanya patah hati karena terlalu mencintaimu. Kemudian, ada pria baru yang kemudian telah membawaku ke putaran tertinggi bianglala, namun dia menjungkalkanku ke tanah, hanya demi memuaskan rasa penasaran dia, hanya demi memuaskan rasa keingintahuan dia, hanya untuk menguji apakah setiap kata cinta dari bibirku untuknya adalah nyata atau bualan belaka?

Yo, kamu tahu apa yang membuatku paling sedih? Selama berbulan-bulan aku berusaha menemukan seseorang yang lebih baik darimu. Seseorang yang bisa menawarkanku kebahagiaan seperti ketika kita makan kebab di pinggiran aliran kali Ciliwung. Seseorang yang memberikanku kebahagiaan seperti saat aku dan kamu menyanyikan lagu Taylor Swift di atas sepeda motormu. Seseorang yang tiba-tiba sudah ada di depan kampusku, tetap tersenyum meskipun tubuhnya basah oleh gerimis. Pria yang baru datang ke hidupku walau hanya sesaat itu bisa memberi kebahagiaan lebih daripada kamu membahagiakanku, Yo, tapi mengapa semua ini harus berakhir justru ketika aku sedang ada di puncak tertinggi dalam perasaan mencintai?

Aku lelah meloncat dari satu hubungan ke hubungan lain. Aku lelah menunggu ksatria baru yang akan membawaku menuju cahaya terang. Aku lelah menangisi banyak hal yang harusnya tidak aku rasakan. Aku lelah dan aku rindu dipeluk seseorang, seseorang yang berjanji tidak akan pergi, sekuat dan sehangat pelukmu. 


dari adikmu,
yang akhirnya kembali sendiri lagi.


18 August 2015

Aku tidak mampu berbohong lagi.

Aku tidak pernah seberdebar ini menunggu seseorang bangun untuk shalat subuh. Aku tidak pernah merasa setakut ini hanya untuk mendengar suaramu di ujung telepon. Kamu hadir dalam bulan-bulan ketika aku berusaha melupakan seseorang, dan saat ini aku masih bertanya-tanya siapa dirimu yang sebenarnya? Aku tidak sepenuhnya yakin kamu adalah jawaban Tuhan atas semua doaku. Aku juga tidak terlalu yakin bahwa kamu adalah malaikat tanpa sayap yang dikirim langsung dari surga untuk menenangkanku sesaat. Kamu terlalu jauh untuk kutatap dan kugenggam, dan semua pertanyaan ini perlahan membuat dadaku sesak dan sekarat.

Dua bulan terakhir, kamu hadir dalam hidupku. Menjelma menjadi seorang pria sederhana yang cara bicaranya begitu tertata. Kita bertukar sapa hingga larut malam, hingga sunyinya jangkrik berubah jadi gema azan subuh. Setelah menunggumu menyapa Tuhan, kita kembali membicarakan berbagai hal absurd yang entah mengapa segalanya begitu menyenangkan bagiku. Aku pernah lupa rasanya bertanya-tanya dalam hati seperti ini. Aku pernah lupa rasanya begitu bahagia hanya mendengar suara seseorang. Aku pernah lupa rasanya tersenyum diam-diam ketika bisa bercakap dengan seseorang yang mengerti duniaku-- dunia yang tak pernah dimengerti siapapun.

Aku menyukaimu. Aku mohon maaf jika ini terlalu lancang. Tapi, adakah yang bisa menahan diri jika telah lama kamu menunggu seseorang yang sangat kauinginkan, lalu dia datang disaat kausendiri, disaat kaubutuhkan dia dalam hari-harimu, dan disaat hatinya hampir sekarat karena terlalu sering patah. Ya, kamulah sosok itu. Pria yang hadir dalam dinginnya malam-malamku, pria yang hadir dalam gelapnya duniaku, dan pria yang tiba-tiba muncul dari rinainya hujan kemudian dengan segera memberikan payung untukku. 

Saat pertama mengenalmu, aku tidak pernah tahu bahwa kita akan sedekat ini. Pertengkaran kita, dua bulan lalu, seakan mendekatkan kita. Saat itu, semesta telah berkonspirasi untuk mempertemukan aku dan kamu. Tidak pernah aku merasakan senyaman ini berbagi cerita bersama seorang pria. Pria yang mengerti leluconku, pria yang begitu menghargai isi otakku, pria yang mengerti imajinasiku, pria yang memahami apa mauku, pria yang mencoba mengalah untukku-- pria yang segalanya dia lakukan; selalu berhasil membuatku bahagia.

Kini, kamu adalah duniaku, meskipun percakapan kita hanya sebatas chat dan suara, namun aku merasa kita adalah kawan lama yang dipertemukan kembali oleh Tuhan; entah untuk tujuan apa. Dua bulan ini, aku bertahan pada jauhnya jarak kita, dan hanya bisa membayangkan betapa nyamannya bisa benar-benar mendengar suaramu hanya dalam jarak beberapa sentimeter. Setiap berjam-jam kita bercakap di ujung telepon, aku berharap bisa menarik tanganmu dari ponselku, berharap bisa merasakan hangatnya genggaman tanganmu. Saat melihat fotomu, aku berharap bisa benar-benar menatap matamu, melihat wajahmu, dan berhenti untuk membayangkan bagaimana manisnya senyum tipismu. Egoiskah jika aku lelah pada semua ini? Dilarangkah jika aku mulai ingin kamu menjadi milikku satu-satunya?

Mungkin, kita berdua tahu, ini memang cinta, walaupun belum pernah ada tatapan mata sebelumnya. Tapi, aku selalu bertanya-tanya, sampai kapan aku harus terus menunggu? Sampai kapan aku harus terus membayangkan hangatnya pelukmu, bagaimana lebarnya lenganmu, bagaimana menyenangkannya dikecup keningku olehmu, bagaimana, bagaimana, dan bagaimana? Sampai kapankah kamu membiarkanku terus bertanya-tanya dan berharap?

Salahkah jika aku ingin kita lebih dari ini? Semua panggilan sayang itu, semua kata cinta itu, dan semua perasaan aneh yang selalu membebaniku ini selalu membuatku mulai merasa berat menjalani hari-hari. Aku selalu merindukanmu, selalu ingin melihatmu, selalu ingin kita segera bertemu, tapi ternyata untuk saat ini-- semesta belum mengizinkan kita bersama. Aku tidak bisa lagi menyangkal bahwa aku sedang dalam keadaan sangat mencintaimu, tidak ingin kehilangan kamu, ingin memilikimu, dan ingin mengusir semua perempuan yang berusaha mendekatimu, atau yang mungkin berusaha kamu dekati. 

Aku ingin merasakan hangatnya genggaman jemarimu. Aku mau merasakan menyenangkannya berada di pelukmu. Aku menunggu kebahagiaan itu datang, menunggu saat kita duduk berdua, sibuk menonton film Amerika, atau film Thailand, atau film Korea, atau film apapun-- asal bersamamu. Aku ingin melihat matahari terbit dan tenggelam; bersamamu. Aku ingin kita ke Malang, ke Yogya, ke Surabaya, ke Bandung, ke Jakarta, ke Dufan, ke manapun; yang penting bersamamu. Aku ingin jadi perempuan paling bahagia karena bisa memilikimu seutuhnya. Aku tidak sabar untuk bersikap posesif padamu, menanyakan setiap wanita jahil yang berusaha menggodamu. Aku sangat ingin jadi prioritasmu. Egoiskah aku jika aku menginginkan kamu sebagai penyebab kebahagiaanku?

Aku ingin kita berhenti saja sampai sini. Menghentikan semua drama yang melelahkan ini. Aku terlalu lelah menunggu, terlalu sabar menanti, dan terlalu sakit untuk diajak berjalan lagi. Aku ingin kita bertemu di satu titik, titik yang membuat memacu kita untuk berlari makin cepat, agar semua ini tidak akan pernah berubah jadi terlambat. 

Aku ingin kita memulai semua dari awal lagi, sebagai pasangan yang benar-benar pasangan. Sebagai pasangan yang dimabuk cinta karena pertemuan nyata, bukan karena gombalan dan rayuan dari ujung telepon semata. Saat itu terjadi, kita akan mulai berjalan lagi, dengan langkah yang tertata rapi, dengan saling bergenggaman tangan juga.

Aku tidak mampu berbohong lagi, bahwa aku sangat ingin kita segera bertemu, bahwa aku ingin kita segera bersama, bahwa aku ingin kita normal seperti pasangan lainnya. Meskipun orang-orang di luar sana pasti sibuk bertanya, "Memangnya kamu mau lagi jatuh cinta dengan yang beda agama?"

24 June 2015

Enam puluh hari setelah perpisahan kita

#SerialTanpamu

Baca Sebelumnya: Empat puluh dua hari tanpamu

Kemarin adalah tanggal jadianku bersama dengan perempuan yang kini telah menjadi kekasihku, namun empat hari yang lalu adalah tanggal jadian kita, tanggal dua puluh. Aku tahu bahwa lima bulan kebersamaan kita tidak akan pernah jadi bagian yang harus dirayakan. Sehabis memberi kejutan untuk kekasih baruku, aku langsung mengarahkan sepeda motorku menuju rumahmu. Pukul satu dini hari, suara sepeda motor Honda CBR-ku yang sangat berisik itu ternyata tidak membuatmu seketika berada di depan pagar rumah. Ah, padahal dulu kamulah gadis yang selalu aku jumpai di depan pagar rumah ketika baru beberapa detik aku mematikan mesin sepeda motorku. Kamulah gadis yang paling hapal suara sepeda motorku, berbeda dengan kekasih baruku yang bahkan tak pernah menyadari kehadiranku jika aku berada di depan rumahnya.

Aku sangat tahu bahwa kamu tidak akan membaca ini, begitupun aku segera tahu bahwa kamu tak akan peduli pada pria yang merokok di dekat pos siskamling rumahmu, entah menunggu siapa, entah menanti apa. Aku hanya melihat mobilmu terparkir di teras dan itu sudah cukup membuatku merasa damai. Beberapa menit setelah tiga batang rokok habis, ternyata gadis yang aku rindukan berbulan-bulan itu tidak kunjung muncul di depan pagar rumah. Aku memutuskan pergi dengan perasaan hampa sambil memegangi kuat-kuat bekal sahur yang diberikan kekasih baruku.

Aku tidak tahu, menjelang sahur seperti ini, entah mengapa jalanan di Depok terasa lebih dingin, mungkinkah ini karena hatiku kembali patah berkali-kali? Tak bisa kupahami, mengapa setiap mengingatmu, rasa bersalah itu kembali merasuki. Ingin rasanya aku memutar ulang kejadian beberapa bulan yang lalu, saat aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita. Harusnya, aku tidak melakukan itu semua dan emosi sesaat itu bisa kupendam senormal mungkin. 

Nyatanya, aku kalah. Mungkin, gadis baik sepertimu tidak pantas berada di tangan penjahat sepertiku. Dan, aku biarkan kamu pergi tanpa tahu alasan dan penjelasan dariku. Kamu pun juga pergi tanpa mengemis penjelasan dan alasan dariku. Mengapa kautidak meminta, setidaknya bertanya? Memberi aku waktu untuk menjelaskan segalanya ataukah mungkin kamu sudah mulai merasakan bahwa kejadian seperti kemarin pada akhirnya akan terjadi, sehingga kamu tidak kaget, dan tidak butuh waktu lama untuk melupakanku? Kalau kauingin tahu, hal paling dingin di dunia ini bukanlah salju, tapi ketika aku merasa dilupakan oleh sosok yang sebenarnya aku cintai, namun dengan sangat terpaksa harus aku lepaskan. Mungkin, selama ini yang kautahu aku melepaskanmu karena juga menjalin hubungan dengan kekasih baruku yang sekarang, itupun benar-- tapi sesungguhnya aku melepaskanmu karena terpaksa. Ya, kamu tidak akan memahami ini semua, aku saja tidak mampu memahami keputusanku, apalagi kamu.

Kurasa, dunia ini sudah gila, semenjak tanpamu; hidupku makin berantakan. Begitu juga kuliahku, hatiku, perasaanku, dan pikiranku. Aku tidak pernah menyangka bahwa patah hati bisa sesakit ini, sementara sebagai pria yang ditutut agar tak menangis; aku harus menyembunyikan air mata dan aku tak tahu kapan semua ini akan berakhir. Kaca helmku semakin buram karena berkali-kali aku menghela napas, pikiranku kacau, dan laju sepeda motorku tak beraturan. 

Aku rindu pelukanmu yang duduk di belakang jok sepeda motorku. Aku rindu teriakan kecilmu ketika aku ngebut di jalanan Depok yang ramai. Aku rindu amarahmu ketika aku menerobos lampu merah kemudian kabur dari polisi yang telah melambaikan tangannya memanggil aku dan sepeda motorku. Aku rindu caramu yang kagok menaiki sepeda motorku yang tingginya lebih dari satu meter itu. Aku rindu suara kecilmu menyanyikan lagu Taylor Swift ketika bosan menunggu lampu merah berganti hijau.

Aku rindu mata bulatmu yang tajam dan penuh arti, mata indah yang kupandangi dengan mencuri bayangmu di kaca spion, ketika kamu membuka kaca helm karena kepanasan. Aku rindu mengantarmu sampai depan rumah. Aku rindu menjemputmu di kampusmu tercinta. Aku rindu menemanimu makan sate dan kebab. Aku rindu menjemputmu di stasiun kereta. Aku rindu kesederhanaanmu. Aku rindu suaramu. Aku rindu setiap inci tubuhmu yang dulu bisa aku pandangi kapanpun aku mau. Aku rindu rambutmu, hidung mancungmu, bibir tipismu, dan rahang tegasmu.

Aku rindu jemari kecilmu, jemari yang telah menghasilkan ratusan tulisan. Aku rindu tawamu. Aku rindu caramu menjelaskan apapun yang aku pertanyakan. Aku rindu amarahmu. Aku rindu pesan singkat, chat-mu, dan teleponmu. Aku rindu saat-saat kebersamaan kita. Aku rindu pelukmu. Aku rindu kecupmu. Aku rindu menemanimu menulis di MCD Cibinong. Aku rindu memakan ice cream sundae di sampingmu dan seperti biasa kamu merelakan sisa ice cream-mu untukku. 

Aku rindu menatapmu dari kaca spion, menatap gadis yang masih menunggu sepeda motorku hilang dari pandangan. Aku rindu caramu berterimakasih karena telah mengantarkanmu sampai depan rumah. Aku rindu apapun tentangmu dan aku tak tahu mengapa enam puluh hari tanpamu rasanya masih seneraka ketika pertama kali aku berusaha untuk membiarkanmu pergi.

Gadisku, aku pernah berpikir bahwa dengan membebaskanmu, maka itu bisa membuatmu bahagia; kalau boleh aku bertanya, apakah hidupmu kali ini sungguh bahagia? Biar aku tebak, tentu kamu sudah mendapatkan pria yang lebih baik dari aku. Pria yang tidak menggunakan sepeda motor Honda CBR, tetapi menggunakan mobil Honda Jazz. Pria yang berkuliah di universitas negeri terbaik, bukan  pria bodoh sepertiku yang terjerembab di universitas swasta. Pria seagama yang bisa mengantarmu sampai depan gereja atau bahkan ikut memasuki gereja, bukan pria penuh bualan seperti aku yang mengaku nasrani hanya karena tak ingin kamu pergi. Hidupmu tentu bahagia, novelmu mungkin sudah masuk buku kesembilan, dan kamu sudah berhasil melupakanku. Wahai gadisku, jika kamu memang sudah bahagia, bisakah kamu ajarkan caranya bahagia tanpa pernah merasa menyesal karena telah melepaskan milikku yang terbaik? Karena kamu yang terbaik, aku tak pernah tega untuk merusakmu. Dan, biarlah kita tetap sejauh ini, biarkan aku tidak bahagia dengan kekasih baruku, asalkan aku tahu kamu telah bahagia dengan kekasih barumu. Bukankah itu pengorbanan tertinggi dari cinta? Tapi, tahi kucing dengan pengorbaban yang bikin aku kesakitan ini!

Kini, aku sudah sampai di kamar kosku. Waktu sahur telah tiba. Aku mengganti baju, mencuci tangan, dan memakan bekal yang diberikan kekasih baruku. Setelah itu, aku meminum kopi kemudian kembali membakar satu batang rokok. Asap rokok yang aku masukkan ke dalam tenggorokan dan paru-paru memang tak begitu banyak, namun banyak kenangan tentangmu yang berputar di otakku, lalu aku embuskan asap rokok dengan embusan berat; seakan berusaha keras terlepas dari sisa-sisa luka. 

Aku tak perlu merasa heran lagi, ketika kali ini aku kembali memutar lagu-lagu Taylor Swift, hanya untuk membuatku merasakan kehadiranmu. Aku membayangkan suara Taylor Swift kali ini adalah suaramu, kamu sedang berbisik di telingaku, dan berkata bahwa kamu ingin memelukku sampai matahari lupa caranya terbit.

dari pria yang selalu merasa;
bahwa kehilangan kamu adalah dosa,
yang selalu berhasil membuat dia;
merasa seperti orang gila.

10 June 2015

MOVE ON!

Aku selalu bilang move on itu bukan hal yang mudah, kecuali kita punya niat yang kuat untuk meninggalkan masa lalu sehingga saat berjalan ke masa depan tidak merasa terbebani. Teman-teman juga pasti sudah baca cerita nyataku tentang #SerialTanpamu yang akan terus aku lanjutkan hingga akhir, hingga aku merasa luka dan patah hatiku telah sembuh. Well, setelah putus dan patah hati berhari-hari, aku akuin emang banyak hal yang berubah. Makan jadi nggak teratur, mikir yang nggak-nggak, keseringan nangis, dan bikin kulit wajah jadi kusam nggak karuan.

Hampir satu bulan sebenarnya dan entah mengapa luka hatiku masih terasa sama. Kayaknya baru kemarin cowok itu bilang “Kita sampe sini aja.” sehingga hari ini pun aku masih nangis nggak karuan. Supaya cepat move on salah satunya adalah berbagi cerita ke sahabat. Hal ini rutin aku lakukan bahkan sebelum aku mengalami patah hati, namun saat sedang patah hati malah makin sering curhat sama sahabat aku.

Selesai curhat, emang rutinitas kami adalah hangout dan makan siang bareng. Aku cuci muka dan ke kamar sahabat aku, mau sedikit dandan. Dia pake ngata-ngatain kalau semenjak putus muka aku jadi jelek banget, kusam, dan jerawatan. Sebel, dong, dibilang kayak gitu, tapi dia bilang mau menunjukan sesuatu ke aku, supaya wajah aku cerahan dikit dan cepat dapat pacar baru. Aku, sih, nggak mikir banyak, emang dasarnya dia baik, ya, pas dia nyuruh aku rebahan, aku ngikut aja.

Pas aku tiduran, ada gel yang tiba-tiba menyegarkan kulit aku. Nggak ngerti, ya, itu prosesnya namanya apa, pas sahabat aku memijat wajah aku beberapa menit, rasanya, tuh, kayak dipeluk sama cowok yang paling kamu sayang. Bahagia aja gitu. Sahabat aku nyuruh aku cuci muka lagi dan disuruh bercermin. Nggak percaya, lho, lihat muka aku di cermin, masa wajah kusam berminggu-minggu bisa cerah dan bersih dalam hitungan detik?

Aku langsung kepo, dong, sama temen aku. Dia nggak ngasih tahu, dia cuma ngasih kontak pemesanan gel yang dia pakaikan ke wajah aku. Yaudah, nggak mau kepo terlalu lama langsung aku pesan aja ke kontak yang sahabat aku bilang itu. Emang dasarnya aku yang kurang update kali, ya?
Gel itu ternyata namanya V10 Plus Water Based Peeling. Aku coba nanya sama Om Gugel ternyata produk ini udah nge-HITS banget, rahasia di balik kulit cerah artis-artis Indonesia yang tetap segar walaupun tanpa make up. Prilly Latuconsina, Jessica Iskandar, Nova Eliza, Masayu Anastasia, Jessica Mila, dan masih banyak lagi. Kalau artis saja sudah membuktikan, berarti memang produknya berkhasiat.

Oke fix, aku makin penasaran. Pas pesanan aku sampai, aku baca-baca keterangan produknya dan sejarah singkat V10 Plus ini. Nggak hanya di Indonesia yang nge-HITS, tapi di luar negeri produk ini udah menjamur banget, terkenal dengan hasil maksimal. Produk ini telah dipasarkan di Singapore, Hongkong, Malaysia, dan Jepang.

Sedangkan di Eropa, pemasaran prosuk meluas sampai Perancis, Spanyol, Denmark, dan Finlandia. Dari tahun 2005, V10 merilis 10 serum untuk mengatasi 10 masalah wajah. Ledakan produk membuat perusahaan makin semangat membuat produk baru, nah, tahun 2006 produk water based peeling dirilis. Tahun 2008 sampai 2009 juga ada produk baru yaitu masker wajah dan vitamin untuk wajah. V10 Plus ini juga telah mengantongi banyak penghargaan, total 13 penghargaan dan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Produk V10 Plus ini adalah produk terpilih yang digunakan dalam ajang Miss France 2015 yang di gelar  di Perancis. Tak hanya di Perancis, produk ini juga menjadi produk perawatan kulit resmi di ajang Miss Singapura 2013, Miss Scuba Singapura 2013, Mrs. Singapura dan Mrs. Singapura Klasik pada tahun 2014-2014. V10 Plus juga mengantongi penghargaan seperti:
  1. Singapore Top 25 Prestige Award 2014 dan Top 100 Singapore Excellence Award 2014 
  2. Majalah SimplyHer di Singapura juga memberikan penghargaan untuk produk V10 Plus yaitu Hyaluronic Acid, Ceremide, dan Collagen SerumSelain Singapura 
  3. V10 Plus juga mendapatkan penghargaan dari Filipina yaitu penghargaan Top Brand Asia 2014 Platinum, Global 2014 Excellence, dan Global Brand 2014
Produk V10 plus ini berasal dari Jepang dan tidak menyebabkan ketergantungan bagi pemakai. Kalau kamu pakai perawatan dokter, produk ini sangat mendukung untuk proses penyembuhan kulit wajah kamu yang jerawat, kusam, dan penuh dengan bekas jerawat. Buat kulit sensitif juga aman karena V10 Plus ini berbahan dasar air, jadi tanpa bahan kimia yang berbahaya bagi wajah. Produk ini jelas berbeda dengan produk-produk lain yang berbahan kimia, tidak aman untuk kulit, dan justru membuat pemakai ketergantungan.

Aku udah males percaya sama iklan-iklan bikin wajah ini itu, ternyata malah bikin wajah tambah rusak. Aku udah coba V10 Plus produk water based peeling-nya bener-bener bikin wajah bersih dalam waktu singkat, herbal, dan terbukti produknya. Aku sendiri udah cobain dan fungsinya banyak banget. Bisa mengangkat sel-sel kulit mati, mencegah timbulnya jerawat, membantu regenerasi kulit, membuat make up lebih tahan lama, meningkatkan daya serap kulit terhadap nutrisi perawatan wajah yang sedang kita gunakan, membantu menghilangkan komedo, mencerahkan dan menghaluskan kulit, mengurangi bekas jerawat, dan menyeimbangkan sekresi minyak pada wajah.

Gara-gara V10 Plus ini, aku sama sahabat aku punya hobi baru yaitu peeling wajah bareng habis kita curhat-curhat lucu. Aku dan sahabat aku juga lagi nungguin banget produk V10 Plus berupa 10 serum untuk mempercantik kulit wajah:
1.       V10 Plus Bio Cell Serum,
2.       V10 Plus Ceramide Serum,
3.       V10 Plus Collagen Serum,
4.       V10 Plus Hyaluronic Acid Serum,
5.       V10 Plus Amino Serum,
6.       V10 Plus Licorice Serum,
7.       V10 Plus Placenta Serum,
8.       V10 PlusPycnogenol Serum,
9.       V10 Plus Vitamin A Serum, dan
10.    V10 Plus Vitamin C Serum.


Kalau wajah udah segar dan makin cantik kayak gini, aku bener-bener siap menjalani hari-hari baruku, move on, dan melupakan sakitnya digantungin sama mantan aku. Daripada galau mending langsung pakai V10 Plus Water Based Peeling, harga benar-benar sesuai kualitas dan sesuai kantong. Aku udah membuktikan khasiatnya, sekarang giliran kamu! 

Kalau mau pesan, bisa langsung ke kontak di bawah ini, ya~

CS 1 :
BB Pin : 57B38808/56D323B8
SMS / Whatsapp : +6281286967999
LINE ID : v10plus_indonesia
WeChat : v10plus_indonesia


CS 2 :
BB Pin : 527DB818 / 515E81B4
SMS / Whatsapp : +6285719819888 
LINE ID : v10plus_indonesia2
WeChat : v10plus_indonesia2

Bisa juga segera pesan di Lazada: http://www.lazada.co.id/catalog/?q=v10+plus
Elevenia: V10 Perawatan Wajah


Jangan sampai kehabisan, ya, teman-teman! :) Kalau nggak serbu sekarang bakalan nyesel banget, lho~