25 May 2013

Apakah Ketakutanku juga bagian dari Ketakutanmu?

Aku menunggu di bawah pohon rindang, sambil menjaga alas kaki yang kautitipkan padaku. Masih banyak pria-pria tampan berlalu-lalang di depanku. Beberapa dari mereka mengenakan sarung dan baju koko, tak lupa juga peci tersemat di kepala. Wajah mereka terlihat bersih karena sudah dibasuh air wudu dari rumah. Kendaraan bermotor tak lagi terlihat banyak. Tuhan memanggil dan ratusan orang datang menemuiNya.

Sambil membaca buku, kudengar suara khotbah diantar pengeras suara masjid. Di dalam sana, pasti kausedang mendengar sabda Tuhan dengan wajah serius dan mata yang tajam. Bersama dengan banyak pria lainnya, kamu pasti sedang duduk rapi. Wajahmu tentu setampan banyak pria yang beberapa saat lalu kulihat memasuki masjid. Basuhan air wudu memperhalus garis-garis wajahmu yang selalu terlihat menarik di mataku.

Menunggumu selesai salat Jumat bukanlah hal yang pertama bagiku. Ini sudah kulakukan berulang kali, berkali-kali. Seperti biasa, ditemani dengan buku fiksi dan gadget, aku menunggumu selesai menemui Tuhan. Sudah kubayangkan, setelah salat Jumat, kamu pasti bercerita tentang khotbah yang kaudengar di dalam masjid. Kotbah yang juga kudengar di luar masjid, di dekat pohon rindang, tempat aku selalu menunggumu.

Sembari menunggumu, kulayangkan ingatanku pada hari-hari yang telah kita lewati. Pada pertemuan pertama kita yang memunculkan ledakan baru di dadaku. Pada kebersamaan kita yang mengalir tanpa banyak pertanyaan. Pada hari-hari baru yang seringkali menggoreskan senyum di bibirku. Kita selalu bahagia bukan? Aku percaya, jawabanmu pasti adalah "ya", karena kamu selalu tersenyum setiap kali aku bercerita tentang banyak mimpi yang belum pernah kita lewati.

Aku tak tahu apakah perjalanan kita butuh ujung dan akhir. Langkah kita begitu lurus dan maju, tak banyak lika-liku, tapi entah mengapa pikiranku seringkali mengharu biru. Aku mencoba mencari sebab dari ketakutanku, kusentuh kalung salib yang menggantung di leherku. Kujamah tubuh Yesus yang sedang kesakitan oleh paku di tangan dan kakiNya, oleh mahkota duri yang tersemat di kepalaNya. Dia sudah begitu mengasihiku, apakah aku harus menyakiti Dia dengan hubungan kita yang jauh dari kata biasa?

Terlintas sebuah ayat yang pernah kubaca, Terang tak dapat bersatu dengan gelap. Aku tak tahu siapakah yang bisa disebut "Terang" dan siapakah yang bisa disebut "Gelap"? Aku bertanya-tanya dan terus bertanya. Tiba-tiba aku ketakutan, seperti dikejar-kejar sesuatu yang memaksaku untuk menjauhimu. Mungkinkah aku harus pergi? Sementara kita sudah mulai nyaman dengan yang kita jalani.

Sayang, aku duduk di sini sendiri, dengan rasa takut yang mungkin juga kurasakan sendiri. Aku takut jika perpisahan pada akhirnya menjadi pilihan kita. Ketakutanku semakin lengkap mengetahui kamu beribadah di tempat yang berbeda denganku. Apakah kita melakukan sebuah kesalahan dan dosa terindah?

Aku takut pada cerita akhir kita yang penuh teka-teki. Aku bahkan tak berani membayangkan jika pada akhirnya semua (terpaksa) berakhir tanpa keinginanku dan keinginanmu. Kita berbeda, apa yang aku dan kamu harapkan dari ketidakmungkinan seperti ini?

Ah, itu, dia! Kamu baru selesai salat Jumat dan segera menghampiriku. Tersenyum dengan wajah senang karena aku masih berada di sini untuk menunggumu. Seperti biasa, kaubercerita tentang khotbah yang kaudengar di dalam masjid. Sambil mengenakan alas kakimu, kautetap menatapku dengan tatapan hangat. Kauajak aku berjalan, menggenggam tanganku erat, dan membelai lembut rambutku. 

Ketakutanku selalu berulang setiap kali kutemani kamu melaksanakan ibadah. Aku memasang senyum sebahagia mungkin, agar kautak tahu; aku begitu mengkhawatirkan kita.

45 comments:

  1. Ini terasa pasti sakit tapi jika ikhlas melakukan nya akan indah pada waktu yang telah di tentukan Tuhan.

    ReplyDelete
  2. cinta yang berbeda agama memang membingungkan. tapi keren ceritanya. :)

    mampir juga ke blog ku ya, himmatulaliyahh.blogspot.com
    makasih. :)

    ReplyDelete
  3. Ini keadaannya persis, bedanya aku muslim pacarku kristiani :')

    ReplyDelete
  4. Yayaya.... :')
    Terharu sekaligus keren... :')

    ReplyDelete
  5. bener2 jleb banget :') penuh misteri di akhir cerita cinta yang seperti ini :'(

    ReplyDelete
  6. Ini bener-bener nyelekit banget u,u
    Ceritanya persis, cuma aku muslim dia hindu. :'

    ReplyDelete
  7. Terang tak dapat bersatu dengan Gelap :)
    Dalemmmmm bangettt...

    ReplyDelete
  8. Keren. Persis sama aku. Aku kristiani dia muslim. Sumpah mau nangis :'(

    ReplyDelete
  9. keren banget sumpah cerita nya :'( ..
    Persis banget , cuma kebalikan :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita sama cuy, aku muslim doi katolik,, dan aku sayang si katolik

      Delete
  10. Alurnya sama persis dengan kejadianku :')

    ReplyDelete
  11. Sama , aku tidak pernah bosan menemani dia berwudhu dan melakukan ibadahnya,. Tapi syg orang tua dan keluarganya tidak pernah tau itu..

    ReplyDelete
  12. gakyau mau ngomong apa kak, keren intinya!

    ReplyDelete
  13. Keren sob :-)
    kunjungi blog aku juga ya sob? ==> kokomsukardi.wordpress.com

    terimakasih dan selamat berkunjung sobat :-)

    ReplyDelete
  14. sama dengan ketakutan yang sekarang aku alami :') Bedanya , sya muslim dia Kristen :')

    ReplyDelete
  15. Kenangan di masa yang lalu...

    ReplyDelete
  16. True story bangeet:'''''')
    Dia muslim aku buddhis:''''')

    ReplyDelete
  17. hanya berbeda disisi yang sebaliknya. aku muslim, dan dia protestan :'')

    ReplyDelete
  18. Emang susah ya:') aku hindu dia islam. Gabakal bisa;(

    ReplyDelete
  19. ketakutan seperti itu juga kualami kak :") cuman akunya buddhis dia kristen :")

    ReplyDelete
  20. kejadiannya sama persis dengaku dan dia

    ReplyDelete
  21. ngena' bangettttttttttt :")
    kak ijin copas yaaaa :))

    ReplyDelete
  22. Jadi mengingat saat q menunggunya di luar masjid setiap kali ia menghadap Tuhannya dan menyebutkan namaku dalam doanya.

    ReplyDelete
  23. Ternyata ini maksudnya ..
    'kamu taukan gelap dan terang tidak bisa sersatu. kaya aku dan kamu. aku gak mungkin ikut kamu, kamu juga gak mgkn ikut aku'
    Aku tidak pernah tau kenapa tuhan mengizinkan perbedaan untuk disatukan. :'(

    ReplyDelete
  24. keren:') , jika tuhan marah dengan kisah percintaan berbatas perbedaan keyakinan.. Mengapa tuhan menghadirkan cinta di antara kita?:|

    ReplyDelete
  25. Keren:') . Kalau memang karna perbedaan tidak bisa untuk disatukan.. Mengapa tuhan menghadirkan cinta diantara kita?:|

    ReplyDelete