27 May 2017

Enam Hari Setelah Segalanya Berakhir

Baca sebelumnya di Empat Hari Setelah Segalanya Berakhir


Masih terasa kekosongan yang disebabkan ketidakhadiranmu di sini. Masih ada rindu yang semakin menggunung karena sudah beberapa minggu kita tidak bertemu. Rasanya begitu berat menjalani hari-hari, ketika aku tidak lagi tahu kabarmu saat ini. Rasanya sulit ketika aku melewati setiap jejak kenangan kita, yang tersisa di kotaku, sementara aku menyadari; kita tidak lagi bersama.

Apa kabarmu di sana? Bahagiakah kamu ketika kamu memutuskan untuk mengakhiri segalanya padahal hubungan kita sedang baik-baik saja? Puaskah kamu meninggalkan seseorang yang paling mencintaimu, tanpa memberi dia kesempatan untuk bertanya dan bicara? Senangkah kamu menjalani hari-hari tanpa kehadiranku di sampingmu? Kalau memang jawabannya iya, betapa bahagianya hidupmu sekarang. Sedangkan di sini, yang aku rasakan adalah kebalikan dari yang kamu rasakan. Sepertinya memang, hanya aku yang paling sedih menghadapi perpisahan kita.

Kamu tidak tahu, setiap malam selalu ada air mata yang terjatuh untukmu. Kamu tidak akan menyadari, setiap hari hatiku masih terus memanggil namamu. Kamu tidak mengerti, setiap saat aku merapal doa untukmu. Sedangkan mungkin di sana, apapun yang kamu lakukan saat ini, tidak pernah melibatkan aku lagi.

Sayang, semakin berat aku menerima kenyataan, bahwa kamu tidak membutuhkan aku lagi. Kamu lepaskan tanganku, di saat aku masih membutuhkanmu. Kamu tinggalkan aku di tengah perjalanan, tanpa memberi tahu apa yang selanjutnya harus aku lakukan. Kamu begitu mudah mengakhiri segala, tanpa menyadari bahwa caramu mengakhiri membuatku terluka tanpa jeda.

Terima kasih sudah menghancurkan apa yang telah aku bangun selama ini. Terima kasih sudah menghancurkan mimpi-mimpiku untuk mengenalmu pada orangtuaku, pada temanku, pada orang-orang yang menanyakan hubungan kita. Terima kasih sudah mengaburkan segala pandangan yang kupikir selama ini cinta, yang ternyata hanya drama belaka. Terima kasih sudah menghempaskanku tanpa memikirkan pengorbananku. Terima kasih untuk setiap luka yang kamu goreskan tidak hanya sekali, tapi berkali-kali. 

Enam hari setelah segalanya berakhir, rasanya masih separah ketika pertama kali kamu mengucapkan kata pisah. Rasanya semua masih begitu sama. Rasanya mataku masih sembab karena bertanya-tanya dengan air mata. Rasanya ini semua masih tidak adil jika aku harus menerima segalanya dengan logikaku, terutama dengan perasaanku. 

Caramu meninggalkanku membuatku semakin tak tentu arah, merasa sibuk berdarah-darah-- demi orang yang salah.

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :")

25 May 2017

Empat Hari Setelah Segalanya Berakhir



Kemarin, adalah hari ketiga setelah segalanya berakhir. Semalam, entah mengapa, aku benci dengan kekosongan dan kehampaan yang aku rasakan. Mataku sembab entah oleh apa. Pipiku menghangat, ada butiran air yang tiba-tiba jatuh menderas dari mata, yang pada akhirnya aku sadari; aku menangisimu.

Tidak ada lagi yang tersisa darimu. Selain kenangan kita, foto-foto kita, sisa-sisa pelukmu yang masih tertinggal di sini, juga chat yang tidak pernah aku hapus. Saat merindukanmu, aku hanya mampu membaca pesan singkatmu, menyadari betapa dulu kita pernah semanis ini, sebelum pada akhirnya kamu memutuskan pergi.

Sungguh, aku sangat ingin memelukmu saat-saat ini. Bercerita seperti dulu lagi, mendengar suaramu seperti kemarin-kemarin, menggenggam jemarimu seerat beberapa minggu yang lalu. Tidak bisakah hal-hal itu terulang lagi? Tidak bisakah aku memelukmu sedekat kemarin? Segalanya memang tidak bisa dan tidak mungkin. Karena status kita tidak lagi seperti kemarin. Kita kini kembali jadi dua orang asing yang saling memunggungi, kamu sudah ingin tahu apa-apa lagi.

Kamu tidak tahu, betapa berat menjalani hari setelah kamu memutuskan pergi. Betapa berat untuk tidak mengingat saat-saat terbaik yang pernah aku lewati bersamamu. Betapa sulit menerima kenyataan bahwa kita sudah tidak lagi terikat status apapun. Betapa rumit menghadapi fakta bahwa kita tidak sejalan. Betapa sedih mengetahui bahwa kamu tidak membutuhkan aku di sisimu lagi. Kamu tidak akan pernah tahu semua, karena selalu saja begitu, selalu rasa peduliku yang besar padamu, sementara rasa pedulimu tidak pernah sebesar itu.

Aku baru mengerti, betapa sepi hari-hari  yang aku jalani-- jika itu tanpamu. Karena aku terbiasa membaca chat-mu, mendengar suaramu, dan kita berbincang sampai larut. Ketika segala rutinitas itu menghilang, aku baru benar-benar menyadari, kamu sudah merenggut separuh diri, separuh yang kaucuri, hingga saat kamu pergi; aku merasa bukan diriku lagi. 

Sayangnya, kamu tidak akan pernah mengerti, siapa yang paling terluka dan paling menjadi korban di sini. Sayangnya, dari sikapmu sejauh ini, dari sikapmu yang tidak ingin tahu lagi, dari tindakanmu yang tidak menghubungiku lagi, cukup membuatku sadar diri; aku tidak sepenting itu lagi.

Orang bilang, putus cinta itu rasanya seperti sulit bernapas, sulit memejamkan mata, sulit melakukan segala, awalnya aku tidak percaya. Hingga empat hari yang lalu, kamu berkata, "Mending kita putus saja."

Kamu tahu? Saat itu, aku jadi sulit bernapas.

Baca lanjutannya di Enam Hari Setelah Segalanya Berakhir

***

Pemesanan buku TERBARU Dwitasari, berjudul Setelah Kamu Pergi, silakan klik di sini :")